Pages

Rabu, 06 Januari 2010

Around the World with Joseph Stiglitz


Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Documentary
“Dunia,” kata Gandhi pada suatu ketika, “menyediakan semua kebutuhan manusia, tapi tidak keserakahan manusia.” Dan Joseph Eugene Stiglitz, tampak ingin membuktikan ucapan Gandhi tersebut dengan berkeliling dunia.

Tapi Joseph Stiglitz “hanyalah” seorang profesor ekonomi dan peraih Nobel bidang Ekonomi dari Amerika Serikat. Adakah hal menarik dalam mengikuti perjalanan keliling dunia seorang warga dari negara yang dicap sebagai sumber keserakahan? Seorang sutradara bernama Jacques Sarasain mencoba menjawab dengan sebuah film dokumenter: Around The World with Joseph Stiglitz (2009).

Dalam film berdurasi 88 menit ini, Sarasin berusaha mengeksplorasi keresahan Stiglitz terhadap globalisasi yang dianggap tidak berjalan sebagaimana mestinya. Globalisasi, bagi Stiglitz, selalu menguntungkan negara maju dan merugikan negara berkembang–bila kita enggan menyebutnya negara miskin.

Dari Ekuador, Stiglitz memperlihatkan bahwa kekayaan alam sering kali hanya menguntungkan pemilik modal besar. Ironisnya, dengan kebijakan pemerintah yang salah, malah hanya menimbulkan kesengsaraan masyarakat setempat. Dalam hal ini, Stiglitz memotret kegiatan pertambangan yang dilakukan perusahaan Texaco dengan keuntungan besar yang diperoleh, sedangkan masyarakat sekitar pertambangan menjadi korban dari “natural resources curse”: Kutukan akibat kekayaan alam, karena pencemaran lingkungan dan eksploitasi, tanpa pernah menikmati kekayaan alamnya yang melimpah.

Di sebuah negara kecil di Afrika bernama Botswana, Stiglitz memperlihatkan kekayaan alam malah menyebabkan penduduk sekitar diusir dari tanah leluhurnya. Dengan dalih penambangan berlian pemerintah setempat meminta penduduknya mengosongkan wilayah pada radius lima kilometer. Dengan dalih konservasi alam liar, penduduk setempat malah harus meninggalkan pohon-pohon yang padahal telah dipercaya sebagai reinkarnasi leluhur dan moyang mereka.

Lain lagi dengan yang terjadi di India. Penduduk suatu desa sampai dijerat kemiskinan yang menyebabkan mereka berkorban untuk menjual ginjal, parahnya, secara massal. Ironisnya, ini bukan disebabkan gagalnya panen kapas yang menjadi pencaharian. Malahan mereka harus menumpuk kapas hingga dalam rumah, karena kapasnya hanya laku dijual dengan harga murah. Penyebabnya: subsidi terhadap petani kapas di Amerika Serikat menyebabkan pasokan kapas dunia dari Amerika melimpah, harga kapas di India jatuh.

Menariknya, Stiglitz memulai keliling dunia yang nestapa akibat globalisasi ini dari kota asalnya: Gary, Indiana, Amerika Serikat. Ketika masih menjadi pusat industri baja, Gary bersolek menjadi kota yang cantik. Namun setelah industri jatuh, Gary pun terlihat renta dan hanya menjadi kota penuh reruntuhan, meninggalkan kecantikan masa lalunya. Sampai ketika pengusaha baja bernama Mittal datang, Gary pun berusaha bangkit.

Sarasin melakukan sejumlah adegan puitis dengan perenungan Stiglitz di tengah reruntuhan Gary. Gambar ini seolah mengungkapkan keresahan Stiglitz: “Hei, bahkan Amerika pun korban dari globalisasi.”

Perjalanan Stiglitz keliling dunia tentu tidak semenarik perjalanan Phileas Fogg dalam novel Jules Verne, Around the World in 80 Days. Petualangan Stiglitz pun kalah seru dibandingkan yang dilakukan Indiana Jones atau Lara croft.

Di film ini Stiglitz berusaha menularkan kegelisahan: Bagaimana agar globalisasi bekerja.

Sebagai sebuah film, tentu ini bukan sebuah aksi yang melahirkan solusi. Namun, tentu yang dilakukan Stiglitz menjadi sebuah pemicu aksi terciptanya masa depan yang lebih baik, terutama untuk para pengambil kebijakan.

Sabtu, 12 Desember 2009

untitled

dahulu, kita mendongak,
menunjuk langit
membentuk bintang untuk
menyusun nama kita
dan meminta Tuhan
menyimpannya
hingga bintang tak lagi bersinar..
walau jasad kita tetap tiada

bogor, desember, 2009

Jumat, 20 November 2009

Siapa Butuh Hukum

Mungkin, manusia tidak pernah membutuhkan hukum.. Apalagi bertujuan terciptanya supremasi hukum!

Karena yang dibutuhkan manusia hanyalah keteraturan. Sesuatu yang sulit dilakukan, karena secara fitrah manusia memiliki perbedaan: dari cara berpikir hingga bertindak.

Karena itulah hukum dibuat. Sebagai pemersatu atas segala segala perbedaan. Lebih tepatnya disebut sebagai sebuah kompromi, atau konsensus, demi terciptanya sebuah keteraturan.

Tapi, apakah hukum benar-benar menciptakan keteraturan? Apa yang dimaksud keteraturan di sini? Keteraturan yang dipaksakan? Atau keteraturan yang lahir dari kesadaran?

Secara historis, hukum kemudian bermetamorfosis. Bukan lagi sebuah kompromi dengan tujuan keteraturan, yang dilahirkan dari kesadaran. Tapi hukum hanya menciptakan sebuah keteraturan yang dipaksakan! Karena itu lahir turunan hukum: dari produk hukum, sampai penegak hukum.

Sampai di titik ini, saya sulit mempercayai hukum dibuat demi keteraturan masyarakat. Tapi berkembang sebagai sebuah alat untuk mengatur masyarakat.

Jika pada awalnya hukum dibuat untuk menghindari dominasi suatu kelompok atas kelompok lain, hukum malah bisa menjadi legitimasi dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain.

Suatu produk hukum seperti Undang-Undang misalnya, bisa diutak atik menjadi sebuah legitimasi kekuasaan suatu rezim. Sah untuk membungkam kritik di masyarakat. Sah untuk tiap persekongkolan jahat yang dilakukan. Jika melawan, ada aparat hukum yang siap menindak setiap pelanggar.

Tapi, konstruksi yang dibentuk, sanksi hukum dibuat untuk memenuhi rasa keadilan, bla, bla, bla.. Masalahnya, siapa yang bisa memenuhi rasa keadilan? Bukankah manusia memelihara konsep adanya tuhan, juga surga/neraka, karena tidak bisa menemukan keadilan di dunia.

Ahh, entahlah.. Jadi siapa membutuhkan hukum? Masyarakat? Atau rezim (pengatur masyarakat)?

NB: percayalah, saya bukan seorang anarki sindikalis. ini hanya sebuah pertanyaan. entah retoris atau bukan...

Selasa, 03 November 2009

kepada waktu

kepada waktu,
haruskah kita berserah?

seperti daun, yang menguning layu;
seperti kulit, yang kerut mengeriput;
seperti rasa, yang perlahan mengelupa;
seperti asa, yang teranggas usia;

kepada waktu,
terseruak tanya tanpa tanda:
entah ke mana akan bermuara,
entah seperti apa akan menjelma

november, 2009

Kamis, 18 Juni 2009

Golput



Kelak, saya akan bertanggungjawab di hadapanMu, Allah Azza wa Jalla, bahwa saya telah memilih yg mudhorotnya paling kecil, yang terbaik dari yang terburuk, dengan pertimbangan semua pengetahuan saya tentang 3 pasangan itu: Yaitu memilih untuk TIDAK MEMILIH! Lagi!

Allah, saksikanlah. Bahwa sikap ini bukan merupakan keputusasaan. Mungkin memang dengan sedikit keterpaksaan. Semoga merupakan keterpaksaan yang sementara.

Karena harapan itu masih ada, akan tetap ada, selalu ada.

Selama harta bukanlah washilah utama untuk meraih kekuasaan. Selama kekuasaan bukanlah tujuan utama dan dasar dari perjuangan.

Selama harta dan kuasa tidak lagi menjadi fitnah yang menjadikan kami, juga ummat penerus ajaran Muhammad ini, terkotak, terpisah, terpecah belah. Terperangkap dalam kepicikan untuk membela hal-hal yang tidak substansif: Partai, Hizb, Harokah, jamaah (dengan j kecil), dan kesempitan lain. Hingga kepicikan itu membuat kami melupakan substansi yang lebih mulia: Izzul Islam wal Muslimin!

Allah. Saksikanlah. Bahwa jiwa ini, tetap merindukan kesyahidan; Merindukan keinginan untuk menatap wajahMu; keinginan berjumpa kanjeng Nabi Muhammad; dipersatukan dalam keindahan Jannah bersama saudara seiman.

Jika hati ini, jiwa ini, raga ini, kotor dengan kekhilafan, maka sucikanlah.. Jika relung hati ini penuh dengan kekecewaan terhadap partai yang mengatasnamakan dakwah, maka sembuhkanlah.

Karena dengan Islam, hamba pernah merasa mulia. Dengan Islam, hamba berharap terus mulia hingga nafas terakhir. Takdirkan hamba, agar dapat teguh dalam perjuangan di jalanMu, untuk mewujudkan cita ini: terwujudnya Izzul Islam wal Muslimin.

Hingga tidak lagi malu untuk mencalonkan kader terbaik ummat ini sebagai calon pemimpin negeri.

Yaa Robbul Izzati! Takdirkanlah!

Jumat, 01 Mei 2009

Sesat 2

karena setapak
tak lagi berjejak,

masih adakah arah?

entah ke mana

april, 2009

Sabtu, 18 April 2009

Meracau: Ingin

Bahagia itu, CINTA, apakah berarti bila kami, manusia, dapat mereduksi ingin?

Dari sejumlah ingin sederhana: punya rumah, punya mobil, punya segala harta. Hingga ingin yang absurd tak terhingga: sehat jiwa, punya anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya, hingga keterpuasan nafsu-syahwati.

CINTA, entah hingga kapan kami, manusia, belajar bahwa ingin jua yang menjerumuskan moyang kami ke planet ketiga dari matahari ini. Diungsikan dari sebuah jagat surgawi, hanya karena ingin mencicipi ranumnya buah, yang konon bernama kuldi.

Namun mitos di dunia kami pun terpaksa menyalahkan Iblis sebagai kambing hitam. Karena ingin tak punya wujud, tak punya tanduk!

Dalam diriku, CINTA, juga tertanam berjuta ingin. Dari yang sederhana: Rumah sederhana di Menteng atau Tebet; dengan istri cantik yang mampu memenuhi dahaga hati-syahwati, anak-anak sehat-cerdas, dan segala kebutuhan materi lain.

Ada juga ingin yang absurd tak terkira: Memenuhi dahaga intelektual-dan-pengalaman-duniawi untuk mengelilingi planet yang bernama bumi ini.

Namun jika itu masih terasa sulit untuk direduksi, CINTA.. Izinkan saya memiliki ingin, satu saja: Untuk berada dalam pelukanMu.. Dalam rengkuhanMu, CINTA...

Satu ingin saja, CINTA.. Untuk menghilangkan ingin-ingin yang lain.

Sabtu, 04 April 2009

Meracau: Film Hitam-Putih

Kemudian, kau dan aku bagaikan masuk dalam adegan film hitam-putih itu.

Kau, dalam balutan kemeja lengan panjang dan rok panjang, tampak anggun dengan rambut yang terurai sebahu. Menanti dengan raut muka yang tampak resah, di bawah pohon itu.

Sedang aku, dengan tergopoh mengayuh sepeda onthel, menghampiri manis senyum di wajahmu, saat melihat hadirku.

Kemudian kita susuri pematang, yang entah untuk menikmati apa selain kebersamaan. Kau mengikutiku dari belakang. Sedang aku menggenggam erat tanganmu, layaknya membimbing anak kecil yang baru belajar berjalan.

Di sebuah saung bambu, kemudian kau dan aku bicara tentang masa depan yang terlalu sederhana: rumah mungil bersekat bambu, berdinding gedhek bambu, dan beratap rumbia dari dedaunan. Dengan 5 makhluk kecil yang makin mewarnai hidup kau dan aku.

Ahh, puan... Tentu akan indah jika cinta melahirkan bahagia yang sederhana seperti itu. Tapi kita hidup di masa dengan film yang penuh warna. Dan tidak hanya hitam-putih seperti itu, bukan?!

Sabtu, 28 Maret 2009

Meracau: Sebelum Malam Terlalu Larut

karena malam belum terlalu larut. dan aku memilih untuk berbincang dengan bayangan. dan tenggelam dalam omong kosong kebahagiaan hidup. untuk melupakan sejenak akan yang disembunyikan malam: derita berkepanjangan dan sesak tak tertahan dalam mimpi-mimpi panjang.

kemudian makin tersadarkan oleh tangis bayi lapar di tengah malam. tapi, hei, sang ibu masih menunggu pelanggan setia di perempatan jalan.

hingga kemudian, aku dan bayangan menghentikan masturbasi percakapan. memilih untuk menyalakan radio yang melantunkan lagu tentang zinah.. oh maaf, tentang cinta.

namun hei, tidak ada kisah layaknya sampek-engtay dalam lirik-lirik sendu itu. samar-samar terdengar kata yang merupakan manifestasi individualisme semata: ingin, butuh, mau, mau, mau... mau?!

Kamis, 12 Maret 2009

merindukanMu, Cinta....


merindukanMu, Cinta... ibarat seorang buta sejak lahir yang merindukan cahaya. terasa, namun tak dapat terekam lensa mata dan retina. lagipula apa arti cahaya, bila tak satu gelap pun pernah dirasa. (walau konon, gelap adalah ketiadaan cahaya)