SEJAK enam bulan tinggal di Solo, Jawa Tengah, saya selalu bingung setiap dapat pertanyaan: "Mas, aslinya mana?". Bagi beberapa orang, mungkin pertanyaan ini terdengar mudah, yang disusul jawaban merujuk pada suku tertentu.
Namun, ini pertanyaan sulit untuk saya jawab mengingat saya memiliki kesadaran akan akar identitas. Yang pasti, selalu ada yang tertawa saat saya menjawab saya ada keturunan China.
Saya tidak sedang bercanda, tetapi bagi orang yang melihat penampakan fisik, sepertinya wajar jika mereka tertawa. "Cino kok ireng" (China kok hitam)..
Baiklah, untuk lebih mudahnya merunut pertanyaan soal identitas ini, lebih baik dipaparkan seperti ini:
Saya lahir dan besar di Jakarta, tetapi bukan berasal dari suku Betawi. Ibu saya lahir di Yogya, jadi sah saja saya menyebut diri orang Jawa.
Sedangkan, bapak saya lahir di Bandung. Namun, bapak bukan orang Sunda, sebab orangtuanya (kakek saya) mengungsi di masa perang dari Cilacap.
Secara kultur, bapak saya bisa dibilang orang Jawa, tapi dia kemudian besar di Jakarta. Di kota yang masyarakatnya berbaur ini, semua kultur tampaknya sudah melebur.
Namun, secara fisik bapak saya juga terlihat seperti orang Tionghoa. Matanya sipit, kulitnya terang.
Meski terlihat seperti orang Tionghoa, tak ada budaya atau tradisinya yang melekat. Tak pernah ada perayaan Imlek, juga tak pernah menerima angpau atau kue keranjang.
Malahan, sewaktu kecil bapak saya seperti anak kecil lainnya yang dibesarkan di wilayah Manggarai, Jakarta Selatan.
Sebelum sekolah dia berjualan koran bersama kakaknya, pakde saya, di sekitar stasiun. Kadang ikut mandi dan berenang di kali yang sekarang warnanya hitam itu.
Mau lihat fotonya? Coba cari buku Queen of the East (2002) yang ditulis Alwi Shahab. Saat ada bab soal Manggarai, coba cari bocah yang terlihat Tionghoa di salah satu foto. Itu bapak saya.
Mungkin bukan pemandangan aneh saat itu, sekitar 1950-an, melihat anak kecil yang bermata sipit bermain bersama anak lain di perkampungan.
Tak ada yang istimewa juga saat bapak, sebagai muslim, ada dalam barisan saf saat shalat. Karena itu, saya kerap tak habis pikir setiap dengar pernyataan, "Dia China, tapi Muslim kok.." What??
Saya juga heran saat sekarang ini kerap mendengar pernyataan yang anti-Tionghoa atau anti-China. Entah apakah "modernitas" membuat pikiran orang semakin sempit? Atau bisa jadi pikiran yang sempit itu buah dari politisasi agama vs politisasi kebinekaan yang terjadi sejak Pemilu 2014.
Kesadaran identitas
Meski sekarang tak mudah bagi saya untuk menjelaskan soal identitas, tapi saat kecil pertanyaan itu relatif lebih mudah dijawab. Saat itu saya dengan yakin menjawab "saya orang Jawa".
Nama saya terdengar sangat Jawa. Dari wajah pun sudah terlihat Jawa, meskipun mata sedikit tipis.
Beranjak tua, kesadaran identitas itu mulai memudar. Saya tak lagi memandang tradisi orang Jawa sebagai sesuatu yang harus dijalankan. Soal selametan atau ruwatan misalnya, perlahan saya menilainya sebagai hal yang profan, bukan sakral.
Sebagai orang yang berasal dari keluarga besar Nahdliyin, saya ikut memahami ajaran Muhammadiyah, yang memandang selametan bisa saja diganti syukuran. Tapi ini bukan berarti saya secara serampangan menolak semua tradisi Jawa atas nama agama.
Cara memandang tradisi yang perlahan pudar ini juga membuat saya lama-lama merasa asing dengan akar kultural saya sebagai orang Jawa.
Entah disadari atau tidak, bisa jadi ini merupakan realitas masyarakat perkotaan, terutama Jakarta. Sebab, biasanya, suku seseorang baru terlihat saat acara besar, seperti resepsi pernikahan misalnya.
"Oh dia orang Minang. Itu ada hiasan rumah gadang di pelaminan".
"Ternyata dia orang Jawa, ya... Tadi banyak banget upacara yang dijalanin".
Sounds familiar?
Tapi tolong jangan tanya saya soal pernikahan. Pokoknya jangan.
Intinya, saya masih memandang saya sebagai orang Jawa. Di sisi lain, lebih dari tiga dasawarsa berada di Jakarta membuat saya memahami diri saya sebagai "orang Jakarta": hasil pembauran multietnis, multikultur, multibudaya, yang longgar memandang tradisi asal.
Perihal Tionghoa
Nah, mengenai keturunan Tionghoa, kesadaran ini sebenarnya baru muncul sejak usia belasan. Ini bermula pada suatu masa di Jalan Malioboro, saat bapak saya berbasa-basi dengan dua orang turis asing.
Sepasang turis itu berasal dari Hong Kong, dan kebetulan bapak saya beberapa kali ke sana hingga perbincangan pun semakin akrab. Hingga kemudian, salah satu turis bertanya: "Are you Chinese? Because you look like Chinese."
Kisah lain adalah saat saya melihat garis silsilah keluarga besar bapak, yang disebutnya sebagai Keluarga Cilacapan. Dalam silsilah ini ada sejumlah nama tokoh, termasuk KH Saifuddin Zuhri. Ini berarti saya ada garis saudara dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan berkerabat dengan Abdurrahman Wahid hehehe.
Ingatan saya samar-samar soal ini. Tapi kalau tidak salah silsilah itu merujuk ke salah satu Sunan dalam Wali Songo, sepertinya Sunan Giri, yang juga ada garis keturunan Tionghoa. Setelah tahu ini, saya pun semakin yakin bahwa bisa jadi memang ada darah Tionghoa juga pada diri saya.
Mengenal silsilah ini menjadi fragmen yang cukup saya ingat sampai sekarang. Sebab, ada istilah dalam bahasa Arab, "Man 'arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu.." Siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya.
Karena itu, jika ditanya "orang mana?", tentu saya akan menyertakan jawaban bahwa saya ada keturunan Tionghoa, meski selama menjalani hidup tanpa tradisi layaknya orang Tionghoa kebanyakan.
Tentang identitas
Sejarah mencatat bahwa pertumpahan darah besar-besaran bisa disebabkan karena masalah identitas. Betul bahwa identitas dapat menumbuhkan kebencian. Namun, kebencian ini tak sontak datang tiba-tiba.
Kebencian itu diajarkan. Meski saya yakin awal kebencian itu tak muncul semata karena identitas, tapi semata konflik kalangan elite.
Karena itu, seseorang di Suriah, Irak, atau Afghanistan bisa membenci siapa saja orang Amerika dan menyalahkannya atas negaranya yang luluh lantak. Seseorang di Eropa pun dapat membenci siapa saja imigran keturunan Timur Tengah dan menyalahkannya atas berbagai kehancuran akibat teror bom yang melanda.
Meski dapat dipahami, tentu saja kebencian tak dapat ditoleransi. Karena tak semua orang AS bertanggung jawab atas seruan perang yang dicanangkan pemerintahnya. Sama seperti tak semua imigran Timur Tengah bisa disalahkan atas perilaku teror yang dilakukan teroris yang kebetulan berasal dari bangsa yang sama.
Saya juga memahami bahwa kebencian terhadap etnis Tionghoa di Indonesia disebabkan karena kebijakan politik yang memisahkannya dengan "bangsa Bumiputra". Kebijakan ini ada sejak zaman kolonial, kemudian dipertahankan pada era Orde Baru dengan berbagai aturan diskriminatif, hingga terbentuk jarak yang semakin dalam.
Bagaimana dengan keadaan saat ini? Tentu saja kebencian itu bisa muncul karena politik. Dua kubu yang ada saat ini menciptakan berbagai narasi, termasuk politisasi agama dan politisasi kebinekaan, sehingga jarak yang sempat direkatkan pada era reformasi kembali semakin lebar menganga.
Saya memahami bahwa kebencian bisa muncul karena hal yang tidak kita pahami.
Hal ini diperlihatkan secara apik dalam video yang digarap Ancestry mengenai perjalanan DNA. Lihat videonya di tautan ini.
Ada 67 orang dari berbagai negara, dengan berbagai identitas, yang dipancing untuk mengungkap kebanggaan mereka akan identitasnya, juga kebenciannya terhadap bangsa lain.
Namun, perjalanan DNA memperlihatkan bahwa kebencian dan kebanggaan itu absurd. Sebab, orang Inggris yang mengaku benci Jerman akhirnya syok saat tahu bahwa DNA dia memperlihatkan ada 5 persen keturunan Jerman dan hanya 30 persen berdarah Inggris.
Seorang dari Islandia yang merasa bangsa terbaik, mungkin karena berpikir keturunan Viking, terhenyak saat tahu bahwa ada juga DNA keturunan Eropa Timur, Spanyol, Portugal, Italia, dan Yunani dalam dirinya.
Jika tidak ada darah murni dalam tiap diri manusia, lalu dari mana kebencian itu timbul?
Kebencian itu tentu saja bukan perihal genetik, bukan bawaan identitas. Kebencian itu ditanamkan, hasil internalisasi kita dalam menyerap beragam peristiwa, namun tak pernah ada di diri kita sejak semula.
Dengan berusaha mengetahui akar identitas, sebenarnya saya berupaya untuk mengenali diri saya sendiri.
Dengan mengenali diri sendiri, saya berusaha memahami bahwa jika ada ketidaksukaan, jika ada kebencian, jika ada amarah yang tersimpan, hal itu tidak pernah berasal dari diri sendiri, tapi dari pengalaman buruk yang saya dapat selama hidup. Pengalaman itulah yang seharusnya ditoleransi. (Dengan catatan, jika karena alasan tertentu sulit untuk kita lupakan atau maafkan.)
Melawan kebencian tentu bukan hal mudah. Saya memahami sepenuh hati bahwa benci tak bisa sepenuhnya dihilangkan, karena kita bukan malaikat.
Namun, yang perlu saya tanam ke diri saya sendiri: Jangan sampai kebencian itu menghilangkan fitrah kita sebagai manusia, yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Senin, 04 Februari 2019
Selasa, 29 Desember 2015
Kami Tak Pernah Cengeng dan Bilang, "Ini Senjakala Kami.."
Saat pertama kali membaca tulisan Bre Redana yang berjudul "Inikah Senjakala Kami..", saya teringat kisah tentang Guru Yosen. Jadi Guru Yosen ini adalah karakter di komik Kungfu Boy yang mengajarkan Chinmi jurus kungfu peremuk tulang, yang menjadi andalan. Maaf, saya bukan makhluk adiluhung yang kaya referensi pustaka, jadi sekedar mengambil hikmah dari komik.
Nah, Guru Yosen ini tahu kalau dia memasuki senjakala usia. "Dia ahli kungfu, tentu paling tahu dengan kondisi badannya," begitu kata dokter yang mengabarkan mengenai kesehatan Guru Yosen yang diprediksi tinggal beberapa hari.
Nah, Guru Yosen ini tahu kalau dia memasuki senjakala usia. "Dia ahli kungfu, tentu paling tahu dengan kondisi badannya," begitu kata dokter yang mengabarkan mengenai kesehatan Guru Yosen yang diprediksi tinggal beberapa hari.
Selasa, 31 Maret 2015
Tentang Beda
![]() |
| foto: http://brittonthagard.com |
Bicara beda, saya selalu teringat salah satu bagian di buku Stellaluna:
"How can we be so different and feel so much alike?" one asks. "And how can we feel so different and be so much alike?" asks another.
Bagaimana kita bisa begitu beda, tapi merasakan hal yang begitu sama? Bagaimana kita merasakan hal yang begitu beda, tapi bisa begitu sama?
Jumat, 23 Januari 2015
LSD dan Halusinasi Politik Menyikapi Pergantian Kepala Polisi
![]() |
| Foto: Yellow Submarine | United Artist |
Saat pertama kali mendengar kata "LSD", entah kenapa pikiran saya selalu mengarah ke lagu legendaris milik The Beatles, "Lucy in the Sky With Diamonds". Padahal LSD yang dianggap selawas The Beatles baru muncul lagi di berita pengendara Outlander gila yang menewaskan banyak nyawa di Arteri Pondok Indah. Kabarnya, sang pengendara sempat mengonsumsi obat-obatan itu sebelum peristiwa berdarah itu terjadi.
Lalu apa kaitan LSD dengan "Lucy in the Sky with Diamonds"? Entah siapa yang pertama kali memulai, tapi lagu itu sering kali dianggap cara John Lennon untuk menuliskan apa yang dirasakannya saat mengonsumsi LSD. Dan LSD dianggap singkatan dari Lucy in the Sky with Diamonds.
Kamis, 29 Mei 2014
Crowdsourcing dan Pemberdayaan Kerumunan di Jagat Maya
![]() |
| Foto: technorati.com |
Jeff Howe haqqul yaqin dengan kekuatan internet. Sebagai seorang pengamat industri digital dan kontributor untuk majalah teknologi sekeren Wired, Howe tentu tak awam dengan cepatnya perkembangan digital di era internet yang mulai mengoptimalkan peran pengguna. Gejalanya memang terlihat dengan berkembangnya situs berbasis user generated content, dengan platform yang memungkinkan para pengguna berperan aktif sebagai pengisi konten.
Sabtu, 10 Mei 2014
Doxing dan Pelanggaran Privasi di Dunia Maya
![]() |
| foto: wonderhowto.com |
Bagi aktivis dunia maya, Satoshi Nakamoto identik dengan tanda-tanya. Namanya mulai dibicarakan di 2009, sejak memperkenalkan Bitcoin, platform mata uang digital yang kini sudah digunakan untuk transaksi di internet. Tapi tidak ada satu orang pun yang tahu identitasnya. Sosoknya gelap. Nama Satoshi Nakamoto diduga sebagai alter-ego seseorang atau sekelompok orang pencipta Bitcoin yang tak ingin diketahui asal-usulnya. Seperti Batman atau Tuxedo Bertopeng yang bersembunyi di kelambu misteri.
Hingga pada 6 Maret 2014, Newsweek memuat tulisan tentang pria bernama Dorian Prentice Satoshi Nakamoto, dalam artikel berjudul "The Face Behind Bitcoin". Artikel yang ditulis Leah McGrath Goodman itu menyebut Dorian Nakamoto yang tinggal di Temple City, California, AS, sebagai Satoshi Nakamoto, sang pendiri Bitcoin.
Minggu, 20 Oktober 2013
Misteri Pengeboman Coventry dan Konspirasi Peristiwa 9/11
![]() |
| photo: telegraph.co.uk |
Salah satu misteri yang paling menarik di Perang Dunia II adalah Pengeboman Coventry, yang lebih dikenal dengan nama peristiwa "Coventry Blitz". Peristiwa ini terjadi pada 14 November 1940. Ketika itu armada Luftwaffe atau Angkatan Udara Jerman membumihanguskan kota Coventry di Inggris dalam sebuah serangan yang dinamakan "Operasi Moonlight Sonata", yang diambil dari salah satu komposisi klasik karya Beethoven.
Nah, misteri terbesar dari peristiwa Coventry Blitz adalah: konon pasukan Sekutu sudah mengetahui adanya rencana "Operasi Moonlight Sonata" ini. Lalu mengapa Perdana Menteri Inggris Winston Churcill yang ketika itu memimpin komando Tentara Sekutu membiarkan Jerman menghancurkan Coventry?
Kamis, 16 Mei 2013
BlackBerry Messenger, Langkah Awal Perubahan BlackBerry?
Nama Nintendo memang sudah lekat dengan video game. Bagi generasi yang menghabiskan usia remaja di tahun '80an dan '90an, Nintendo merupakan keseharian. Nintendo adalah kasak-kusuk mencari jalan untuk menyelamatkan Zelda bersama Link. Nintendo adalah keterampilan mengendalikan Mario dan Luigi melompat di antara dunia yang dipenuhi pipa, kura-kura, juga matahari bernama Lakitu dengan landak-landak tajam yang dilemparkannya untuk melukai kepala.
Tapi tak ada yang menyangka kalau perusahaan yang didirikan Fusajiro Yamauchi pada 23 September 1989 ini punya sejarah metamorfosis yang panjang. Berawal sebagai pembuat kartu hanafuda yang merupakan permainan khas Jepang, Nintendo juga pernah membuka usaha hotel cinta. Tapi hotel yang memang dikenal sebagai lokasi bercinta dengan tarif per jam ini sepertinya aib bagi Nintendo. Hotel cinta pun ditutup, bisnisnya dikubur.
Apa yang dialami Nintendo bisa jadi pelajaran untuk BlackBerry. Seperti apa?
Kamis, 04 Oktober 2012
Identitas Pembeda (Baru) itu Bernama Gadget
Masa lalu BlackBerry sepertinya penuh diwarnai kesombongan. Saat iPhone pertama kali diperkenalkan pada 2007 silam, Mike Lazaridis, CEO Research in Motion saat itu (selaku produsen BlackBerry), meremehkan kehadiran iPhone.
Lazaridis sendiri sebenarnya sedang menanggapi optimisme pendiri Apple, Steve Jobs. Dengan yakin Steve Jobs pernah berkata bahwa Apple memiliki visi akan mengubah ponsel layaknya komputer dan menyingkirkan popularitas BlackBerry.
Mendengar ucapan Steve Jobs itu, Lazaridis malah mempertanyakan apa yang sudah dicapai Apple di pasaran. "Berapa yang dimiliki Apple di pasaran? Jelas kecil," ucap Lazaridis ketika itu, dilansir dari Gizmodo.
Utopia Kebebasan Pers
"Saat ini dalam sejarah dunia, di Amerika tidak ada yang namanya kebebasan pers. Kalian tahu itu dan saya tahu itu. Tidak ada satu pun di antara kalian yang berani menulis pendapat kalian dengan jujur, dan kalau kalian melakukannya, kalian sudah tahu bahwa pendapat itu tidak akan pernah dicetak. Saya dibayar perminggu untuk menjauhkan pendapat jujur saya dari koran tempat saya bekerja. Kalian juga ada yang dibayar dengan harga serupa untuk hal-hal seperti itu, dan siapa pun di antara kalian yang dengan bodohnya menulis pendapat jujur akan terlantar di jalanan mencari pekerjaan baru. Kalau saya membiarkan pendapat jujur saya muncul di salah satu terbitan koran saya, sebelum 24 jam pekerjaan saya sudah melayang. Tugas para jurnalis adalah menghancurkan kebenaran, berdusta sama sekali, menyesatkan, memfitnah, menjilat kaki dewa kekayaan dan menjual negara dan rasnya demi sesuap nasi sehari-hari. Kalian tahu itu dan saya tahu itu, dan kebodohan apa ini mengajak kita bersulang bagi kebebasan pers? Kita adalah alat-alat pengikut orang-orang kaya di balik panggung. Kita adalah dongkrak, mereka menarik benang lalu kita menari. Bakat kita, kemungkinan kita, dan hidup kita semua, adalah milik orang lain. Kita adalah pelacur intelektual".
JOHN SWINTON | Mantan Jurnalis New York Times
Senin, 17 Januari 2011
You Don't Know Jack
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Drama |
Janet Adkins menderita Alzheimer. Penyakit yang membuat Janet kehilangan fungsi sebagian otak. Sehingga Janet tidak bisa mengenali jalan menuju pintu rumah, bahkan dari halaman rumahnya sendiri. Kelak, dan ini ketakutan terbesarnya, Janet pun tidak dapat mengenali suaminya, anaknya, bahkan dirinya sendiri saat bercermin.Dibanding melanjutkan hidup sebagai zombie, Janet kemudian memilih mati. Karena itu Janet dan suami kemudian menghubungi Jack Kevorkian, dokter pensiun dan ahli patologis, untuk membantunya menjadi pasien yang melakukan euthanasia. Janet merupakan pasien pertama Jack Kevorkian, yang kemudian dikenal sebagai tokoh euthanasia di Amerika Serikat.
Di dalam mobil van Volkswagen tua milik Jack yang terparkir di perkemahan publik, Jack ‘mendampingi’ Janet untuk mati atas pilihannya sendiri. Setelah Janet menekan tombol merah pada sebuah alat, maka cairan bius akan mengalir ke nadi Janet untuk membuatnya tidak sadar. Semenit kemudian, cairan potasium klorida akan mengalir ke nadi Janet hingga menghentikan detak jantungnya. Kematian yang dianggap Jack: “humane (manusiawi), dignified (memiliki kebanggaan), dan painless (tanpa rasa sakit).
Dalam melakukan euthanasia, Jack hanya mendampingi pasien dalam memilih mati (assisted suicide). Walau beberapa kali berurusan dengan aparat hukum dan pengadilan, Jack selalu lolos selama tidak ada regulasi yang menghukum asistensi bunuh diri di negara bagian Michigan.
Jack kemudian malah menjadikan tenar wacana euthanasia ke publik, tentu beserta perdebatannya. Apalagi setelah muncul dalam sampul Majalah Time pada 18 Juni 1990, yang menjulukinya: Doctor Death.
Tapi Jack punya alasan dalam melakukan euthanasia. Karena itulah Jack menolak calon pasien yang mengalami depresi dan menganggap euthanasia hanya wahana untuk bunuh diri.
“Anda mengalami depresi, dan harus mengalami perawatan medis. Kami hanya bisa membantu Anda menyarankan untuk menyembuhkan depresi, maka Anda akan melanjutkan hidup dengan bahagia,” demikian penolakan Jack melalui ucapan Janet Good, aktivis hak untuk mati yang juga rekan Jack, kepada pasien berusia 30-an itu.
Jack juga pernah menolak calon pasien yang menghubungi dan meminta euthanasia sesaat setelah divonis menderita Parkinson. “Karena Parkinson baru berdampak pada aktivitas sehari-hari beberapa tahun sejak Anda divonis. Kami akan membantu Anda saat itu tiba,” kata Jack.
You Don’t Know Jack memang judul yang cenderung provokatif untuk menggambarkan kisah tentang Jack Kevorkian. Sesuai judul, sutradara Barry Levinson berusaha mengajak penonton untuk mengenal sosok Jack Kevorkian secara personal, ketimbang “Doctor Death”.
Menarik pula untuk memperhatikan emosi yang dibangun antara Jack dengan sejumlah pasiennya yang melakukan euthanasia. Tidak hanya dengan Janet Adkins, hubungan Jack dengan pasien-pasien lain tersebut berhasil dibangun secara emosional.
Sosok Jack yang eksentrik dan keras kepala di satu sisi terlihat unik berdampingan dengan sisi Jack yang lain: sulit mengungkapkan emosinya. Sosok ahli patologis yang juga pelukis dan musisi jazz ini tampak sempurna diperankan Al Pacino.
Peran Al Pacino pun berhasil diimbangi Brenda Vaccaro yang berperan sebagai Margo Janus, adik Jack yang membantunya melakukan euthanasia. Danny Huston pun patut mendapat perhatian saat berperan sebagai Geoffery Fieger, pengacara Jack yang sukses meloloskan Jack dari jerat pengadilan selama dibelanya. Selain itu terdapat pula Susan Sarandon yang berperan sebagai Janet Good.
Film televisi produksi HBO untuk berdurasi 134 menit ini memang menarik dalam memperdebatkan kembali wacana euthanasia. Sebuah wacana tentang kewajiban dokter untuk menyembuhkan, juga keinginan pasien untuk mengakhiri penderitaan hidup dalam perawatan medis. Apalagi perawatan yang membutuhkan banyak biaya, namun tak memiliki harapan untuk pulih.
(Januari, 2010)
Rabu, 29 Desember 2010
Teralienasi Angka
pada mulanya, manusia menanda waktu bukan dengan satuan angka. tapi melalui butiran pasir yang menetes perlahan, atau melalui bayangan yang terpantul pancaran sinar matahari. analog, bukan digital.
entah kapan, siapa memulai, dan bagaimana, manusia memerangkap waktu dalam satuan angka. mungkin saat itulah manusia mulai mengalienasikan diri dalam angka.
bangun pada pukul 04.30; mandi pada pukul 06.15; berangkat dari rumah pukul 07.30; tiba di kantor pukul 09.00; makan siang pukul 12.00, et cetera, et cetera.
tidak hanya rutinitas, bahkan manusia modern pun mulai terjebak dalam angka di sebuah upaya penghiburan diri, seperti jadwal film pukul 18.45. saat bertemu tuhan pun, manusia masa kini terjebak dalam angka: sholat maghrib pukul 18.13, sebuah waktu sholat yang seharusnya menjadikan matahari terbenam sebagai penanda.
manusia masa kini tampaknya memang teralienasi dalam angka. registrasi kependudukan menyebabkan manusia memiliki nomor KTP. dalam kegiatan ekonomi, nomor rekening menjadi kebutuhan. kalau sakit, manusia membutuhkan nomor jaminan sosial untuk berobat. dan saling keterhubungan pun membutuhkan angka: nomor telepon.
tidak hanya itu, kualitas pun sering dinilai dengan angka. murid dengan indeks prestasi di atas 3, dianggap lebih pintar dari yang 2 koma. manusia dengan penghasilan atau gaji double digit dalam satuan juta, akan memperoleh status dan kedudukan mulia di mata masyarakat.
keberhasilan sebuah negara pun dinilai berdasarkan angka statistik. dengan pertumbuhan ekonomi mencapai angka 6 persen, sebuah negara akan dianggap berhasil. walaupun di tahun yang sama ada satu kampung yang sebagian besar penduduknya mati karena kelaparan.
tentang tuhan? perdebatan tuhan tunggal atau jamak mungkin menjadi contoh bentuk manusia yang teralienasi dengan angka. ahh, bagaimana dengan cara manusia yang mengingatnya dengan cara menyebut 3 x 33 kali? entahlah. tidak bijak juga bagi saya untuk mempertanyakan cara manusia berhubungan dengan tuhan.
hahaha.. tuhan, saya meracau lagi. racauan yang sebenarnya disebabkan masalah sederhana: punya bos yang terobsesi dengan angka. sehigga menilai kualitas anak-buahnya hanya berdasarkan angka. hanya berdasarkan berapa jumlah pageviewer yang didapat dari berita-berita yang dibuat. angka pageviewer itu bahkan yang membunuh idealisme pembentukan media yang fokus dengan permasalahan korupsi. terbukti dengan matinya kanal korupsi.
sampai kapan saya bertahan? entahlah, saya hanya tidak ingin menjadikan angka sebagai alasan dan target untuk bertahan atau pergi.
29122011/07:08
Rabu, 03 November 2010
seperti apa tuhan?
suatu hari, seorang ustadz memberikan ceramah. "tuhan tidak terlihat, tapi terasa keberadaannya."
tiba-tiba saya menceletuk, "kaya kentut dong yah.."
sedikit menahan emosi, ustadz itu kemudian meralat. "tuhan bukan seperti kentut, tapi seperti udara! segar dan dibutuhkan manusia untuk hidup."
secara spontan pula saya merespon. "berarti di luar angkasa gak ada tuhan yah, kan di sana hampa udara.."
setelah berpikir lama, ustadz yang menahan marah itu kemudian melanjutkan lagi. "kalau begitu tuhan seperti listrik. tidak terlihat, namun menjadi daya pembangkit yang besar."
saya kemudian merespon lagi. "kalau begitu, kalau pakai sandal jepit, kita tidak akan 'kesetrum' tuhan dong?"
tiba-tiba, ustadz menampar saya. matanya terlihat memerah, lalu berkata dengan nada meninggi:
"sakit?! seperti itulah tuhan! seperti rasa sakit! bisa dirasakan, tapi tidak terlihat.."
dengan menahan sakit, saya masih menjawab: "tapi sakit ini bersifat sementara. apakah tuhan juga?"
ustadz itu makin galak, kemudian berteriak. "jadi kamu menolak adanya tuhan?!
dengan menahan marah dan berusaha santun, saya hanya menjawab: "tidak! saya hanya menolak semua analogi manusia tentang tuhan. karena udara, listrik, bahkan rasa sakit adalah makhluq (yang diciptakan). bagaimana mungkin kholiq (sang pencipta) dianalogikan serupa makhluq."
saya dan ustadz itu kemudian sama-sama terdiam. walau begitu, mungkin masing-masing benak kami tidak akan pernah pernah terdiam untuk bertanya. "seperti apa tuhan?"
tiba-tiba saya menceletuk, "kaya kentut dong yah.."
sedikit menahan emosi, ustadz itu kemudian meralat. "tuhan bukan seperti kentut, tapi seperti udara! segar dan dibutuhkan manusia untuk hidup."
secara spontan pula saya merespon. "berarti di luar angkasa gak ada tuhan yah, kan di sana hampa udara.."
setelah berpikir lama, ustadz yang menahan marah itu kemudian melanjutkan lagi. "kalau begitu tuhan seperti listrik. tidak terlihat, namun menjadi daya pembangkit yang besar."
saya kemudian merespon lagi. "kalau begitu, kalau pakai sandal jepit, kita tidak akan 'kesetrum' tuhan dong?"
tiba-tiba, ustadz menampar saya. matanya terlihat memerah, lalu berkata dengan nada meninggi:
"sakit?! seperti itulah tuhan! seperti rasa sakit! bisa dirasakan, tapi tidak terlihat.."
dengan menahan sakit, saya masih menjawab: "tapi sakit ini bersifat sementara. apakah tuhan juga?"
ustadz itu makin galak, kemudian berteriak. "jadi kamu menolak adanya tuhan?!
dengan menahan marah dan berusaha santun, saya hanya menjawab: "tidak! saya hanya menolak semua analogi manusia tentang tuhan. karena udara, listrik, bahkan rasa sakit adalah makhluq (yang diciptakan). bagaimana mungkin kholiq (sang pencipta) dianalogikan serupa makhluq."
saya dan ustadz itu kemudian sama-sama terdiam. walau begitu, mungkin masing-masing benak kami tidak akan pernah pernah terdiam untuk bertanya. "seperti apa tuhan?"
Sabtu, 16 Oktober 2010
Sulitnya Mencari Jenazah di Wasior Saat Presiden Datang
Wasior - Abdul Mamiek (43 tahun) menatap lekat pohon-pohon dan batu besar yang menimpa reruntuhan rumah-rumah di Teluk Wondama, Wasior, Papua Barat. Mamiek menduga di antara timbunan pohon, batu, dan lumpur itulah anaknya, Afdhalalul Ikhsan (21 tahun), terkubur banjir bandang saat bencana itu melanda Wasior.
"Di sekitar situ anak saya terkubur," kata Mamiek sambil menunjuk salah satu pohon besar, Kamis pagi, 14 Oktober 2010. "Lokasi itu juga saya tahu setelah tanya kepada warga di sini," lanjut Mamiek.
Usai menunjuk, Mamiek pun tak kuasa menahan tangis kehilangan Said, panggilan Afdhalalul, anak sulungnya yang baru tinggal di Wasior selama dua bulan. Di Wasior, Said bekerja sebagai tukang cuci foto dan ikut bersama adik perempuan Mamiek (tante Said) yang sekarang tinggal di pengungsian.
Ketika banjir bandang melanda Wasior, Mamiek sedang berada di Makasar. Saat mendapat kabar, seketika itulah Mamiek berusaha terus mencari Said yang masih dianggapnya hilang.
"Saya dapat kabar dia (Said) sedang tidur saat banjir itu datang. Sudah dibangunkan, tapi tidak sempat. Batu dan pohon besar itu menimpa rumah, tapi tidak ada yang tahu dia ke mana," ucap Mamiek sambil memegangi foto Said.
Sejak pertama tiba di Wasior, Selasa, 12 Oktober 2010, Mamiek pun terus berusaha mencari keberadaan Said. Termasuk jenazahnya, jika memang anaknya mati tertimbun lumpur akibat banjir bandang.
Mamiek terus meminta alat berat seperti ekskavator untuk mencari 'anaknya' di antara timbunan batu dan pohon besar. Namun, menurut Mamiek, pencarian korban hilang dihentikan sementara saat Wasior bersiap menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 14 Oktober 2010.
"Secara spontan saya minta ekskavator untuk gali. Tapi dikatakan: 'Kita tidak lakukan dulu itu, kita utamakan bersihkan jalan karena presiden mau datang'," tutur Mamiek sambil menyeka air yang masih tertahan di matanya.
Walau tidak mendapat bantuan, Mamiek mengaku akan terus mencari keberadaan 'anaknya' yang hilang. "Bagaimana pun saya terus mencari, dengan adanya bantuan ataupun tidak," ujar Mamiek.
Namun, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengatakan tidak ada penghentian sementara pencarian korban hilang. Menurut Syamsul, pencarian sementara hanya dihentikan di lokasi yang dilewati Presiden SBY.
"(Penghentian sementara) itu kan hanya pada titik yang dilewati Presiden. Sedangkan ada 18 titik yang pelaksanaannya tetap jalan, dengan 40 alat berat," ucap Syamsul yang ditemui di hotel tempat rombongan Presiden menginap di Manokwari, usai mengunjungi Wasior, 14 Oktober 2010.
Bayu Galih, Oktober 2010
Sabtu, 11 September 2010
Di Gerbang Istana
di gerbang istana, kemarin, ribuan orang berdesakan. kala itu, istana sedang mengadakan open house. iya, open house.. yang berarti (seharusnya) kemarin istana benar-benar membuka pintunya kepada semua orang yang akan masuk ke dalamnya: melihat kemegahan bangunan, keindahan taman, hingga bersalaman dengan raja penghuni istana.
dalam setahun, open house memang diadakan sekali, saat idul fitri. ini berarti dalam 364 hari (365 di tahun kabisat) yang lain, istana menjaga jarak dengan rakyatnya.
ironisnya, dalam open house setahun sekali itu pun jelata sulit sekali bertemu rajanya. mereka dipaksa berdesakan, menanti giliran masuk, hanya untuk bersalaman dengan rajanya. di depan gerbang sekretariat negara, yang anggaran pembuatan gerbangnya pun mampu kasih makan satu kampung miskin untuk dua tahun!
hingga seorang tunanetra bernama joni malela pun kemudian meninggal dunia akibat berdesakan di gerbang istana...
tapi kemudian, santer beredar kabar: rakyat berdesakan bukan semata untuk bertemu rajanya. tapi karena ada uang yang diberikan, usai bersalaman dengan raja.
setelah ditelusuri, ternyata memang ada uang Rp 100 ribu yang diberikan kepada penyandang cacat usai bersalaman dengan raja. tentu saja bukan salah para jelata apabila rela berdesakan di depan gerbang istana demi uang semata.
toh, dalam open house yang hanya sehari itu, mereka punya harapan akan bentuk 'kesejahteraan' nyata yang diberikan raja kepada rakyatnya. walaupun hanya Rp 100 ribu!
kesejahteraan pula yang tidak bisa diberikan sang raja kepada rakyatnya dalam 364/365 hari yang lain!
tiba-tiba, muncul kerinduan akan sosok pemimpin yang tidak pernah tinggal di istana, walaupun mampu untuk membangunnya. pemimpin yang terbiasa tidur di alas kasar hingga berbekas di punggungnya. pemimpin yang mau bertanggung jawab atas setiap lubang jalan yang ada di negerinya.
juga pemimpin yang ikut merasakan lapar, di saat rakyatnya kelaparan. bahkan hingga mengganjalnya dengan batu untuk menahan lapar.
(duka terdalam untuk joni malela)
11 September 2010
Senin, 19 April 2010
Hitam di Langit Koja, 14 April 2010
Saya yakin, saat itu saya sedang tidak berada di Tikrit atau Gaza. Tapi dentuman terdengar dari segala penjuru. Langit menghitam oleh asap dari kendaraan yang dibakar. Sore itu, saya ada di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, 14 April 2010.
Saat itu, amarah jelas terpancar di banyak wajah: Bahkan dengan senjata tajam yang siap terhunus. Selain amarah, terlihat pula wajah pucat ribuan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Sebelumnya, ribuan wajah itu terlihat garang menyerang massa yang berkumpul di makam Habib Hassan al Haddad, yang dikenal juga dengan sebutan Mbah Priok. Namun, ketika terjepit, terkepung, dan tersudut, pucat merupakan ekspresi wajar manusia menghadapi kematian.
Siang itu, lima tubuh Satpol PP dalam keadaan tak berdaya ikut saya gotong ke pinggiran. Setidaknya, agar tidak terus dipukul, ditikam, habis-habisan.
Dalam keadaan kritis, saya sempat mendengar dari mulut yang tidak berdaya itu terucap: “Ya Allah.. Tolong saya..” Tapi dari massa yang menghajar, saya mendengar nama yang sama disebut: Allah. Entah berpihak kepada siapa Dia saat itu.
Saya ingat, salah satu Satpol PP yang saya gotong, tertera nama W. Soepono di seragamnya. Soepono menjadi salah satu korban tewas bersama Ahmad Tadjuddin dan Israel Jaya. Saya tidak ingat apakah Israel dan Tadjuddin juga saya gotong saat itu.
Entah apa yang saya rasakan saat itu, yang pasti saya sedih ketika membaca sms yang mengabarkan kematian Soepono. Tapi saya kemudian marah ketika mendengar pidato Presiden!
Di Priok, tidak ada polisi saat itu, karena hukum tidak berlaku. Tapi sikap Presiden yang menyalahkan Pemerintah Provinsi dan mengkambing hitamkan media, membuat saya makin prihatin dengan negeri ini.
Allah… Entah kepada siapa kau berpihak saat itu… Sampai kapan kami harus pasrah dengan keadaan negeri ini.
Kami tidak lagi punya pemimpin yang bisa diharapkan untuk mensejahterakan rakyatnya.. Tapi setidaknya, jangan biarkan kami saling benci, apalagi saling membunuh!
Saat itu, amarah jelas terpancar di banyak wajah: Bahkan dengan senjata tajam yang siap terhunus. Selain amarah, terlihat pula wajah pucat ribuan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Sebelumnya, ribuan wajah itu terlihat garang menyerang massa yang berkumpul di makam Habib Hassan al Haddad, yang dikenal juga dengan sebutan Mbah Priok. Namun, ketika terjepit, terkepung, dan tersudut, pucat merupakan ekspresi wajar manusia menghadapi kematian.
Siang itu, lima tubuh Satpol PP dalam keadaan tak berdaya ikut saya gotong ke pinggiran. Setidaknya, agar tidak terus dipukul, ditikam, habis-habisan.
Dalam keadaan kritis, saya sempat mendengar dari mulut yang tidak berdaya itu terucap: “Ya Allah.. Tolong saya..” Tapi dari massa yang menghajar, saya mendengar nama yang sama disebut: Allah. Entah berpihak kepada siapa Dia saat itu.
Saya ingat, salah satu Satpol PP yang saya gotong, tertera nama W. Soepono di seragamnya. Soepono menjadi salah satu korban tewas bersama Ahmad Tadjuddin dan Israel Jaya. Saya tidak ingat apakah Israel dan Tadjuddin juga saya gotong saat itu.
Entah apa yang saya rasakan saat itu, yang pasti saya sedih ketika membaca sms yang mengabarkan kematian Soepono. Tapi saya kemudian marah ketika mendengar pidato Presiden!
Di Priok, tidak ada polisi saat itu, karena hukum tidak berlaku. Tapi sikap Presiden yang menyalahkan Pemerintah Provinsi dan mengkambing hitamkan media, membuat saya makin prihatin dengan negeri ini.
Allah… Entah kepada siapa kau berpihak saat itu… Sampai kapan kami harus pasrah dengan keadaan negeri ini.
Kami tidak lagi punya pemimpin yang bisa diharapkan untuk mensejahterakan rakyatnya.. Tapi setidaknya, jangan biarkan kami saling benci, apalagi saling membunuh!
Rabu, 14 April 2010
Wartawan Militan
Ini ironis. Ada sebuah percakapan yang dilakukan sekumpulan wartawan yang menunggu sejak pagi hingga tengah malam, tembus dini hari:
"Gue mulai skeptis dengan kata 'wartawan militan'. Jangan-jangan kata 'militan' itu cuma dijadiin 'alat' oleh korporasi," kata salah seorang teman, wartawan situs berita.
"Biar wartawannya ikhlas dibayar murah, tanpa harus menuntut uang lembur..."kata teman yang lain, wartawan surat kabar harian.
*menghela nafas panjang*
Lalu apa yang membuat kami bertahan hingga tengah malam, walau liputan sejak pagi? Mungkin ada perasaan 'takut kebobolan' dan tidak dapat berita bagus? Atau tidak mau kehilangan momen, yang bisa jadi sangat bersejarah di masa mendatang? Atau malah lebih sederhana: takut dimarahi bos di kantor?
Entah..
Anehnya lagi, beberapa saat setelah percakapan itu teman wartawan lain berucap: "Semoga ini tahun terakhir jadi wartawan.."
Hahaha. Ucapan yang (menurut pengakuannya) diucapkan tiap tahun, sejak bertahun-tahun lalu. Tapi tetap saja dia bertahan jadi wartawan.
Atas alasan apa dia bertahan? Entah. Alasan nasib, barangkali..
"Gue mulai skeptis dengan kata 'wartawan militan'. Jangan-jangan kata 'militan' itu cuma dijadiin 'alat' oleh korporasi," kata salah seorang teman, wartawan situs berita.
"Biar wartawannya ikhlas dibayar murah, tanpa harus menuntut uang lembur..."kata teman yang lain, wartawan surat kabar harian.
*menghela nafas panjang*
Lalu apa yang membuat kami bertahan hingga tengah malam, walau liputan sejak pagi? Mungkin ada perasaan 'takut kebobolan' dan tidak dapat berita bagus? Atau tidak mau kehilangan momen, yang bisa jadi sangat bersejarah di masa mendatang? Atau malah lebih sederhana: takut dimarahi bos di kantor?
Entah..
Anehnya lagi, beberapa saat setelah percakapan itu teman wartawan lain berucap: "Semoga ini tahun terakhir jadi wartawan.."
Hahaha. Ucapan yang (menurut pengakuannya) diucapkan tiap tahun, sejak bertahun-tahun lalu. Tapi tetap saja dia bertahan jadi wartawan.
Atas alasan apa dia bertahan? Entah. Alasan nasib, barangkali..
Rabu, 13 Januari 2010
detakan
suatu malam kamu tanya, kenapa aku tidak pernah memegang tanganmu. kalau itu memang butuh jawaban...
karena tiap aku mendengar detak jantungmu yang beradu detak dengan jantungku, rasa-rasanya itu lebih dari sebuah genggaman, bahkan dekapan erat..
karena tiap aku mendengar detak jantungmu yang beradu detak dengan jantungku, rasa-rasanya itu lebih dari sebuah genggaman, bahkan dekapan erat..
Minggu, 10 Januari 2010
pada sebuah perpisahan
pada sebuah perpisahan: seloyang pizza, sekotak donat, kumpulan kenangan yang terserak, dan sisa harapan di masa depan.
setelah ini mungkin akan jarang lagi ke ui, ke depok.
selamat tinggal kukusan;
selamat tinggal hutan karet;
selamat tinggal mushola nurul jihad;
selamat tinggal jalanan ui malam hari;
selamat tinggal sahabat terbaik.
thanks for the best 8+ years..
setelah ini mungkin akan jarang lagi ke ui, ke depok.
selamat tinggal kukusan;
selamat tinggal hutan karet;
selamat tinggal mushola nurul jihad;
selamat tinggal jalanan ui malam hari;
selamat tinggal sahabat terbaik.
thanks for the best 8+ years..
Rabu, 06 Januari 2010
Around the World with Joseph Stiglitz

| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Documentary |
Tapi Joseph Stiglitz “hanyalah” seorang profesor ekonomi dan peraih Nobel bidang Ekonomi dari Amerika Serikat. Adakah hal menarik dalam mengikuti perjalanan keliling dunia seorang warga dari negara yang dicap sebagai sumber keserakahan? Seorang sutradara bernama Jacques Sarasain mencoba menjawab dengan sebuah film dokumenter: Around The World with Joseph Stiglitz (2009).
Dalam film berdurasi 88 menit ini, Sarasin berusaha mengeksplorasi keresahan Stiglitz terhadap globalisasi yang dianggap tidak berjalan sebagaimana mestinya. Globalisasi, bagi Stiglitz, selalu menguntungkan negara maju dan merugikan negara berkembang–bila kita enggan menyebutnya negara miskin.
Dari Ekuador, Stiglitz memperlihatkan bahwa kekayaan alam sering kali hanya menguntungkan pemilik modal besar. Ironisnya, dengan kebijakan pemerintah yang salah, malah hanya menimbulkan kesengsaraan masyarakat setempat. Dalam hal ini, Stiglitz memotret kegiatan pertambangan yang dilakukan perusahaan Texaco dengan keuntungan besar yang diperoleh, sedangkan masyarakat sekitar pertambangan menjadi korban dari “natural resources curse”: Kutukan akibat kekayaan alam, karena pencemaran lingkungan dan eksploitasi, tanpa pernah menikmati kekayaan alamnya yang melimpah.
Di sebuah negara kecil di Afrika bernama Botswana, Stiglitz memperlihatkan kekayaan alam malah menyebabkan penduduk sekitar diusir dari tanah leluhurnya. Dengan dalih penambangan berlian pemerintah setempat meminta penduduknya mengosongkan wilayah pada radius lima kilometer. Dengan dalih konservasi alam liar, penduduk setempat malah harus meninggalkan pohon-pohon yang padahal telah dipercaya sebagai reinkarnasi leluhur dan moyang mereka.
Lain lagi dengan yang terjadi di India. Penduduk suatu desa sampai dijerat kemiskinan yang menyebabkan mereka berkorban untuk menjual ginjal, parahnya, secara massal. Ironisnya, ini bukan disebabkan gagalnya panen kapas yang menjadi pencaharian. Malahan mereka harus menumpuk kapas hingga dalam rumah, karena kapasnya hanya laku dijual dengan harga murah. Penyebabnya: subsidi terhadap petani kapas di Amerika Serikat menyebabkan pasokan kapas dunia dari Amerika melimpah, harga kapas di India jatuh.
Menariknya, Stiglitz memulai keliling dunia yang nestapa akibat globalisasi ini dari kota asalnya: Gary, Indiana, Amerika Serikat. Ketika masih menjadi pusat industri baja, Gary bersolek menjadi kota yang cantik. Namun setelah industri jatuh, Gary pun terlihat renta dan hanya menjadi kota penuh reruntuhan, meninggalkan kecantikan masa lalunya. Sampai ketika pengusaha baja bernama Mittal datang, Gary pun berusaha bangkit.
Sarasin melakukan sejumlah adegan puitis dengan perenungan Stiglitz di tengah reruntuhan Gary. Gambar ini seolah mengungkapkan keresahan Stiglitz: “Hei, bahkan Amerika pun korban dari globalisasi.”
Perjalanan Stiglitz keliling dunia tentu tidak semenarik perjalanan Phileas Fogg dalam novel Jules Verne, Around the World in 80 Days. Petualangan Stiglitz pun kalah seru dibandingkan yang dilakukan Indiana Jones atau Lara croft.
Di film ini Stiglitz berusaha menularkan kegelisahan: Bagaimana agar globalisasi bekerja.
Sebagai sebuah film, tentu ini bukan sebuah aksi yang melahirkan solusi. Namun, tentu yang dilakukan Stiglitz menjadi sebuah pemicu aksi terciptanya masa depan yang lebih baik, terutama untuk para pengambil kebijakan.
Langganan:
Postingan (Atom)







