Kamis, 04 Oktober 2012
Identitas Pembeda (Baru) itu Bernama Gadget
Masa lalu BlackBerry sepertinya penuh diwarnai kesombongan. Saat iPhone pertama kali diperkenalkan pada 2007 silam, Mike Lazaridis, CEO Research in Motion saat itu (selaku produsen BlackBerry), meremehkan kehadiran iPhone.
Lazaridis sendiri sebenarnya sedang menanggapi optimisme pendiri Apple, Steve Jobs. Dengan yakin Steve Jobs pernah berkata bahwa Apple memiliki visi akan mengubah ponsel layaknya komputer dan menyingkirkan popularitas BlackBerry.
Mendengar ucapan Steve Jobs itu, Lazaridis malah mempertanyakan apa yang sudah dicapai Apple di pasaran. "Berapa yang dimiliki Apple di pasaran? Jelas kecil," ucap Lazaridis ketika itu, dilansir dari Gizmodo.
Utopia Kebebasan Pers
"Saat ini dalam sejarah dunia, di Amerika tidak ada yang namanya kebebasan pers. Kalian tahu itu dan saya tahu itu. Tidak ada satu pun di antara kalian yang berani menulis pendapat kalian dengan jujur, dan kalau kalian melakukannya, kalian sudah tahu bahwa pendapat itu tidak akan pernah dicetak. Saya dibayar perminggu untuk menjauhkan pendapat jujur saya dari koran tempat saya bekerja. Kalian juga ada yang dibayar dengan harga serupa untuk hal-hal seperti itu, dan siapa pun di antara kalian yang dengan bodohnya menulis pendapat jujur akan terlantar di jalanan mencari pekerjaan baru. Kalau saya membiarkan pendapat jujur saya muncul di salah satu terbitan koran saya, sebelum 24 jam pekerjaan saya sudah melayang. Tugas para jurnalis adalah menghancurkan kebenaran, berdusta sama sekali, menyesatkan, memfitnah, menjilat kaki dewa kekayaan dan menjual negara dan rasnya demi sesuap nasi sehari-hari. Kalian tahu itu dan saya tahu itu, dan kebodohan apa ini mengajak kita bersulang bagi kebebasan pers? Kita adalah alat-alat pengikut orang-orang kaya di balik panggung. Kita adalah dongkrak, mereka menarik benang lalu kita menari. Bakat kita, kemungkinan kita, dan hidup kita semua, adalah milik orang lain. Kita adalah pelacur intelektual".
JOHN SWINTON | Mantan Jurnalis New York Times
Senin, 17 Januari 2011
You Don't Know Jack
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Drama |
Janet Adkins menderita Alzheimer. Penyakit yang membuat Janet kehilangan fungsi sebagian otak. Sehingga Janet tidak bisa mengenali jalan menuju pintu rumah, bahkan dari halaman rumahnya sendiri. Kelak, dan ini ketakutan terbesarnya, Janet pun tidak dapat mengenali suaminya, anaknya, bahkan dirinya sendiri saat bercermin.Dibanding melanjutkan hidup sebagai zombie, Janet kemudian memilih mati. Karena itu Janet dan suami kemudian menghubungi Jack Kevorkian, dokter pensiun dan ahli patologis, untuk membantunya menjadi pasien yang melakukan euthanasia. Janet merupakan pasien pertama Jack Kevorkian, yang kemudian dikenal sebagai tokoh euthanasia di Amerika Serikat.
Di dalam mobil van Volkswagen tua milik Jack yang terparkir di perkemahan publik, Jack ‘mendampingi’ Janet untuk mati atas pilihannya sendiri. Setelah Janet menekan tombol merah pada sebuah alat, maka cairan bius akan mengalir ke nadi Janet untuk membuatnya tidak sadar. Semenit kemudian, cairan potasium klorida akan mengalir ke nadi Janet hingga menghentikan detak jantungnya. Kematian yang dianggap Jack: “humane (manusiawi), dignified (memiliki kebanggaan), dan painless (tanpa rasa sakit).
Dalam melakukan euthanasia, Jack hanya mendampingi pasien dalam memilih mati (assisted suicide). Walau beberapa kali berurusan dengan aparat hukum dan pengadilan, Jack selalu lolos selama tidak ada regulasi yang menghukum asistensi bunuh diri di negara bagian Michigan.
Jack kemudian malah menjadikan tenar wacana euthanasia ke publik, tentu beserta perdebatannya. Apalagi setelah muncul dalam sampul Majalah Time pada 18 Juni 1990, yang menjulukinya: Doctor Death.
Tapi Jack punya alasan dalam melakukan euthanasia. Karena itulah Jack menolak calon pasien yang mengalami depresi dan menganggap euthanasia hanya wahana untuk bunuh diri.
“Anda mengalami depresi, dan harus mengalami perawatan medis. Kami hanya bisa membantu Anda menyarankan untuk menyembuhkan depresi, maka Anda akan melanjutkan hidup dengan bahagia,” demikian penolakan Jack melalui ucapan Janet Good, aktivis hak untuk mati yang juga rekan Jack, kepada pasien berusia 30-an itu.
Jack juga pernah menolak calon pasien yang menghubungi dan meminta euthanasia sesaat setelah divonis menderita Parkinson. “Karena Parkinson baru berdampak pada aktivitas sehari-hari beberapa tahun sejak Anda divonis. Kami akan membantu Anda saat itu tiba,” kata Jack.
You Don’t Know Jack memang judul yang cenderung provokatif untuk menggambarkan kisah tentang Jack Kevorkian. Sesuai judul, sutradara Barry Levinson berusaha mengajak penonton untuk mengenal sosok Jack Kevorkian secara personal, ketimbang “Doctor Death”.
Menarik pula untuk memperhatikan emosi yang dibangun antara Jack dengan sejumlah pasiennya yang melakukan euthanasia. Tidak hanya dengan Janet Adkins, hubungan Jack dengan pasien-pasien lain tersebut berhasil dibangun secara emosional.
Sosok Jack yang eksentrik dan keras kepala di satu sisi terlihat unik berdampingan dengan sisi Jack yang lain: sulit mengungkapkan emosinya. Sosok ahli patologis yang juga pelukis dan musisi jazz ini tampak sempurna diperankan Al Pacino.
Peran Al Pacino pun berhasil diimbangi Brenda Vaccaro yang berperan sebagai Margo Janus, adik Jack yang membantunya melakukan euthanasia. Danny Huston pun patut mendapat perhatian saat berperan sebagai Geoffery Fieger, pengacara Jack yang sukses meloloskan Jack dari jerat pengadilan selama dibelanya. Selain itu terdapat pula Susan Sarandon yang berperan sebagai Janet Good.
Film televisi produksi HBO untuk berdurasi 134 menit ini memang menarik dalam memperdebatkan kembali wacana euthanasia. Sebuah wacana tentang kewajiban dokter untuk menyembuhkan, juga keinginan pasien untuk mengakhiri penderitaan hidup dalam perawatan medis. Apalagi perawatan yang membutuhkan banyak biaya, namun tak memiliki harapan untuk pulih.
(Januari, 2010)
Rabu, 29 Desember 2010
Teralienasi Angka
pada mulanya, manusia menanda waktu bukan dengan satuan angka. tapi melalui butiran pasir yang menetes perlahan, atau melalui bayangan yang terpantul pancaran sinar matahari. analog, bukan digital.
entah kapan, siapa memulai, dan bagaimana, manusia memerangkap waktu dalam satuan angka. mungkin saat itulah manusia mulai mengalienasikan diri dalam angka.
bangun pada pukul 04.30; mandi pada pukul 06.15; berangkat dari rumah pukul 07.30; tiba di kantor pukul 09.00; makan siang pukul 12.00, et cetera, et cetera.
tidak hanya rutinitas, bahkan manusia modern pun mulai terjebak dalam angka di sebuah upaya penghiburan diri, seperti jadwal film pukul 18.45. saat bertemu tuhan pun, manusia masa kini terjebak dalam angka: sholat maghrib pukul 18.13, sebuah waktu sholat yang seharusnya menjadikan matahari terbenam sebagai penanda.
manusia masa kini tampaknya memang teralienasi dalam angka. registrasi kependudukan menyebabkan manusia memiliki nomor KTP. dalam kegiatan ekonomi, nomor rekening menjadi kebutuhan. kalau sakit, manusia membutuhkan nomor jaminan sosial untuk berobat. dan saling keterhubungan pun membutuhkan angka: nomor telepon.
tidak hanya itu, kualitas pun sering dinilai dengan angka. murid dengan indeks prestasi di atas 3, dianggap lebih pintar dari yang 2 koma. manusia dengan penghasilan atau gaji double digit dalam satuan juta, akan memperoleh status dan kedudukan mulia di mata masyarakat.
keberhasilan sebuah negara pun dinilai berdasarkan angka statistik. dengan pertumbuhan ekonomi mencapai angka 6 persen, sebuah negara akan dianggap berhasil. walaupun di tahun yang sama ada satu kampung yang sebagian besar penduduknya mati karena kelaparan.
tentang tuhan? perdebatan tuhan tunggal atau jamak mungkin menjadi contoh bentuk manusia yang teralienasi dengan angka. ahh, bagaimana dengan cara manusia yang mengingatnya dengan cara menyebut 3 x 33 kali? entahlah. tidak bijak juga bagi saya untuk mempertanyakan cara manusia berhubungan dengan tuhan.
hahaha.. tuhan, saya meracau lagi. racauan yang sebenarnya disebabkan masalah sederhana: punya bos yang terobsesi dengan angka. sehigga menilai kualitas anak-buahnya hanya berdasarkan angka. hanya berdasarkan berapa jumlah pageviewer yang didapat dari berita-berita yang dibuat. angka pageviewer itu bahkan yang membunuh idealisme pembentukan media yang fokus dengan permasalahan korupsi. terbukti dengan matinya kanal korupsi.
sampai kapan saya bertahan? entahlah, saya hanya tidak ingin menjadikan angka sebagai alasan dan target untuk bertahan atau pergi.
29122011/07:08
Rabu, 03 November 2010
seperti apa tuhan?
suatu hari, seorang ustadz memberikan ceramah. "tuhan tidak terlihat, tapi terasa keberadaannya."
tiba-tiba saya menceletuk, "kaya kentut dong yah.."
sedikit menahan emosi, ustadz itu kemudian meralat. "tuhan bukan seperti kentut, tapi seperti udara! segar dan dibutuhkan manusia untuk hidup."
secara spontan pula saya merespon. "berarti di luar angkasa gak ada tuhan yah, kan di sana hampa udara.."
setelah berpikir lama, ustadz yang menahan marah itu kemudian melanjutkan lagi. "kalau begitu tuhan seperti listrik. tidak terlihat, namun menjadi daya pembangkit yang besar."
saya kemudian merespon lagi. "kalau begitu, kalau pakai sandal jepit, kita tidak akan 'kesetrum' tuhan dong?"
tiba-tiba, ustadz menampar saya. matanya terlihat memerah, lalu berkata dengan nada meninggi:
"sakit?! seperti itulah tuhan! seperti rasa sakit! bisa dirasakan, tapi tidak terlihat.."
dengan menahan sakit, saya masih menjawab: "tapi sakit ini bersifat sementara. apakah tuhan juga?"
ustadz itu makin galak, kemudian berteriak. "jadi kamu menolak adanya tuhan?!
dengan menahan marah dan berusaha santun, saya hanya menjawab: "tidak! saya hanya menolak semua analogi manusia tentang tuhan. karena udara, listrik, bahkan rasa sakit adalah makhluq (yang diciptakan). bagaimana mungkin kholiq (sang pencipta) dianalogikan serupa makhluq."
saya dan ustadz itu kemudian sama-sama terdiam. walau begitu, mungkin masing-masing benak kami tidak akan pernah pernah terdiam untuk bertanya. "seperti apa tuhan?"
tiba-tiba saya menceletuk, "kaya kentut dong yah.."
sedikit menahan emosi, ustadz itu kemudian meralat. "tuhan bukan seperti kentut, tapi seperti udara! segar dan dibutuhkan manusia untuk hidup."
secara spontan pula saya merespon. "berarti di luar angkasa gak ada tuhan yah, kan di sana hampa udara.."
setelah berpikir lama, ustadz yang menahan marah itu kemudian melanjutkan lagi. "kalau begitu tuhan seperti listrik. tidak terlihat, namun menjadi daya pembangkit yang besar."
saya kemudian merespon lagi. "kalau begitu, kalau pakai sandal jepit, kita tidak akan 'kesetrum' tuhan dong?"
tiba-tiba, ustadz menampar saya. matanya terlihat memerah, lalu berkata dengan nada meninggi:
"sakit?! seperti itulah tuhan! seperti rasa sakit! bisa dirasakan, tapi tidak terlihat.."
dengan menahan sakit, saya masih menjawab: "tapi sakit ini bersifat sementara. apakah tuhan juga?"
ustadz itu makin galak, kemudian berteriak. "jadi kamu menolak adanya tuhan?!
dengan menahan marah dan berusaha santun, saya hanya menjawab: "tidak! saya hanya menolak semua analogi manusia tentang tuhan. karena udara, listrik, bahkan rasa sakit adalah makhluq (yang diciptakan). bagaimana mungkin kholiq (sang pencipta) dianalogikan serupa makhluq."
saya dan ustadz itu kemudian sama-sama terdiam. walau begitu, mungkin masing-masing benak kami tidak akan pernah pernah terdiam untuk bertanya. "seperti apa tuhan?"
Sabtu, 16 Oktober 2010
Sulitnya Mencari Jenazah di Wasior Saat Presiden Datang
Wasior - Abdul Mamiek (43 tahun) menatap lekat pohon-pohon dan batu besar yang menimpa reruntuhan rumah-rumah di Teluk Wondama, Wasior, Papua Barat. Mamiek menduga di antara timbunan pohon, batu, dan lumpur itulah anaknya, Afdhalalul Ikhsan (21 tahun), terkubur banjir bandang saat bencana itu melanda Wasior.
"Di sekitar situ anak saya terkubur," kata Mamiek sambil menunjuk salah satu pohon besar, Kamis pagi, 14 Oktober 2010. "Lokasi itu juga saya tahu setelah tanya kepada warga di sini," lanjut Mamiek.
Usai menunjuk, Mamiek pun tak kuasa menahan tangis kehilangan Said, panggilan Afdhalalul, anak sulungnya yang baru tinggal di Wasior selama dua bulan. Di Wasior, Said bekerja sebagai tukang cuci foto dan ikut bersama adik perempuan Mamiek (tante Said) yang sekarang tinggal di pengungsian.
Ketika banjir bandang melanda Wasior, Mamiek sedang berada di Makasar. Saat mendapat kabar, seketika itulah Mamiek berusaha terus mencari Said yang masih dianggapnya hilang.
"Saya dapat kabar dia (Said) sedang tidur saat banjir itu datang. Sudah dibangunkan, tapi tidak sempat. Batu dan pohon besar itu menimpa rumah, tapi tidak ada yang tahu dia ke mana," ucap Mamiek sambil memegangi foto Said.
Sejak pertama tiba di Wasior, Selasa, 12 Oktober 2010, Mamiek pun terus berusaha mencari keberadaan Said. Termasuk jenazahnya, jika memang anaknya mati tertimbun lumpur akibat banjir bandang.
Mamiek terus meminta alat berat seperti ekskavator untuk mencari 'anaknya' di antara timbunan batu dan pohon besar. Namun, menurut Mamiek, pencarian korban hilang dihentikan sementara saat Wasior bersiap menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 14 Oktober 2010.
"Secara spontan saya minta ekskavator untuk gali. Tapi dikatakan: 'Kita tidak lakukan dulu itu, kita utamakan bersihkan jalan karena presiden mau datang'," tutur Mamiek sambil menyeka air yang masih tertahan di matanya.
Walau tidak mendapat bantuan, Mamiek mengaku akan terus mencari keberadaan 'anaknya' yang hilang. "Bagaimana pun saya terus mencari, dengan adanya bantuan ataupun tidak," ujar Mamiek.
Namun, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengatakan tidak ada penghentian sementara pencarian korban hilang. Menurut Syamsul, pencarian sementara hanya dihentikan di lokasi yang dilewati Presiden SBY.
"(Penghentian sementara) itu kan hanya pada titik yang dilewati Presiden. Sedangkan ada 18 titik yang pelaksanaannya tetap jalan, dengan 40 alat berat," ucap Syamsul yang ditemui di hotel tempat rombongan Presiden menginap di Manokwari, usai mengunjungi Wasior, 14 Oktober 2010.
Bayu Galih, Oktober 2010
Sabtu, 11 September 2010
Di Gerbang Istana
di gerbang istana, kemarin, ribuan orang berdesakan. kala itu, istana sedang mengadakan open house. iya, open house.. yang berarti (seharusnya) kemarin istana benar-benar membuka pintunya kepada semua orang yang akan masuk ke dalamnya: melihat kemegahan bangunan, keindahan taman, hingga bersalaman dengan raja penghuni istana.
dalam setahun, open house memang diadakan sekali, saat idul fitri. ini berarti dalam 364 hari (365 di tahun kabisat) yang lain, istana menjaga jarak dengan rakyatnya.
ironisnya, dalam open house setahun sekali itu pun jelata sulit sekali bertemu rajanya. mereka dipaksa berdesakan, menanti giliran masuk, hanya untuk bersalaman dengan rajanya. di depan gerbang sekretariat negara, yang anggaran pembuatan gerbangnya pun mampu kasih makan satu kampung miskin untuk dua tahun!
hingga seorang tunanetra bernama joni malela pun kemudian meninggal dunia akibat berdesakan di gerbang istana...
tapi kemudian, santer beredar kabar: rakyat berdesakan bukan semata untuk bertemu rajanya. tapi karena ada uang yang diberikan, usai bersalaman dengan raja.
setelah ditelusuri, ternyata memang ada uang Rp 100 ribu yang diberikan kepada penyandang cacat usai bersalaman dengan raja. tentu saja bukan salah para jelata apabila rela berdesakan di depan gerbang istana demi uang semata.
toh, dalam open house yang hanya sehari itu, mereka punya harapan akan bentuk 'kesejahteraan' nyata yang diberikan raja kepada rakyatnya. walaupun hanya Rp 100 ribu!
kesejahteraan pula yang tidak bisa diberikan sang raja kepada rakyatnya dalam 364/365 hari yang lain!
tiba-tiba, muncul kerinduan akan sosok pemimpin yang tidak pernah tinggal di istana, walaupun mampu untuk membangunnya. pemimpin yang terbiasa tidur di alas kasar hingga berbekas di punggungnya. pemimpin yang mau bertanggung jawab atas setiap lubang jalan yang ada di negerinya.
juga pemimpin yang ikut merasakan lapar, di saat rakyatnya kelaparan. bahkan hingga mengganjalnya dengan batu untuk menahan lapar.
(duka terdalam untuk joni malela)
11 September 2010
Senin, 19 April 2010
Hitam di Langit Koja, 14 April 2010
Saya yakin, saat itu saya sedang tidak berada di Tikrit atau Gaza. Tapi dentuman terdengar dari segala penjuru. Langit menghitam oleh asap dari kendaraan yang dibakar. Sore itu, saya ada di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, 14 April 2010.
Saat itu, amarah jelas terpancar di banyak wajah: Bahkan dengan senjata tajam yang siap terhunus. Selain amarah, terlihat pula wajah pucat ribuan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Sebelumnya, ribuan wajah itu terlihat garang menyerang massa yang berkumpul di makam Habib Hassan al Haddad, yang dikenal juga dengan sebutan Mbah Priok. Namun, ketika terjepit, terkepung, dan tersudut, pucat merupakan ekspresi wajar manusia menghadapi kematian.
Siang itu, lima tubuh Satpol PP dalam keadaan tak berdaya ikut saya gotong ke pinggiran. Setidaknya, agar tidak terus dipukul, ditikam, habis-habisan.
Dalam keadaan kritis, saya sempat mendengar dari mulut yang tidak berdaya itu terucap: “Ya Allah.. Tolong saya..” Tapi dari massa yang menghajar, saya mendengar nama yang sama disebut: Allah. Entah berpihak kepada siapa Dia saat itu.
Saya ingat, salah satu Satpol PP yang saya gotong, tertera nama W. Soepono di seragamnya. Soepono menjadi salah satu korban tewas bersama Ahmad Tadjuddin dan Israel Jaya. Saya tidak ingat apakah Israel dan Tadjuddin juga saya gotong saat itu.
Entah apa yang saya rasakan saat itu, yang pasti saya sedih ketika membaca sms yang mengabarkan kematian Soepono. Tapi saya kemudian marah ketika mendengar pidato Presiden!
Di Priok, tidak ada polisi saat itu, karena hukum tidak berlaku. Tapi sikap Presiden yang menyalahkan Pemerintah Provinsi dan mengkambing hitamkan media, membuat saya makin prihatin dengan negeri ini.
Allah… Entah kepada siapa kau berpihak saat itu… Sampai kapan kami harus pasrah dengan keadaan negeri ini.
Kami tidak lagi punya pemimpin yang bisa diharapkan untuk mensejahterakan rakyatnya.. Tapi setidaknya, jangan biarkan kami saling benci, apalagi saling membunuh!
Saat itu, amarah jelas terpancar di banyak wajah: Bahkan dengan senjata tajam yang siap terhunus. Selain amarah, terlihat pula wajah pucat ribuan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Sebelumnya, ribuan wajah itu terlihat garang menyerang massa yang berkumpul di makam Habib Hassan al Haddad, yang dikenal juga dengan sebutan Mbah Priok. Namun, ketika terjepit, terkepung, dan tersudut, pucat merupakan ekspresi wajar manusia menghadapi kematian.
Siang itu, lima tubuh Satpol PP dalam keadaan tak berdaya ikut saya gotong ke pinggiran. Setidaknya, agar tidak terus dipukul, ditikam, habis-habisan.
Dalam keadaan kritis, saya sempat mendengar dari mulut yang tidak berdaya itu terucap: “Ya Allah.. Tolong saya..” Tapi dari massa yang menghajar, saya mendengar nama yang sama disebut: Allah. Entah berpihak kepada siapa Dia saat itu.
Saya ingat, salah satu Satpol PP yang saya gotong, tertera nama W. Soepono di seragamnya. Soepono menjadi salah satu korban tewas bersama Ahmad Tadjuddin dan Israel Jaya. Saya tidak ingat apakah Israel dan Tadjuddin juga saya gotong saat itu.
Entah apa yang saya rasakan saat itu, yang pasti saya sedih ketika membaca sms yang mengabarkan kematian Soepono. Tapi saya kemudian marah ketika mendengar pidato Presiden!
Di Priok, tidak ada polisi saat itu, karena hukum tidak berlaku. Tapi sikap Presiden yang menyalahkan Pemerintah Provinsi dan mengkambing hitamkan media, membuat saya makin prihatin dengan negeri ini.
Allah… Entah kepada siapa kau berpihak saat itu… Sampai kapan kami harus pasrah dengan keadaan negeri ini.
Kami tidak lagi punya pemimpin yang bisa diharapkan untuk mensejahterakan rakyatnya.. Tapi setidaknya, jangan biarkan kami saling benci, apalagi saling membunuh!
Rabu, 14 April 2010
Wartawan Militan
Ini ironis. Ada sebuah percakapan yang dilakukan sekumpulan wartawan yang menunggu sejak pagi hingga tengah malam, tembus dini hari:
"Gue mulai skeptis dengan kata 'wartawan militan'. Jangan-jangan kata 'militan' itu cuma dijadiin 'alat' oleh korporasi," kata salah seorang teman, wartawan situs berita.
"Biar wartawannya ikhlas dibayar murah, tanpa harus menuntut uang lembur..."kata teman yang lain, wartawan surat kabar harian.
*menghela nafas panjang*
Lalu apa yang membuat kami bertahan hingga tengah malam, walau liputan sejak pagi? Mungkin ada perasaan 'takut kebobolan' dan tidak dapat berita bagus? Atau tidak mau kehilangan momen, yang bisa jadi sangat bersejarah di masa mendatang? Atau malah lebih sederhana: takut dimarahi bos di kantor?
Entah..
Anehnya lagi, beberapa saat setelah percakapan itu teman wartawan lain berucap: "Semoga ini tahun terakhir jadi wartawan.."
Hahaha. Ucapan yang (menurut pengakuannya) diucapkan tiap tahun, sejak bertahun-tahun lalu. Tapi tetap saja dia bertahan jadi wartawan.
Atas alasan apa dia bertahan? Entah. Alasan nasib, barangkali..
"Gue mulai skeptis dengan kata 'wartawan militan'. Jangan-jangan kata 'militan' itu cuma dijadiin 'alat' oleh korporasi," kata salah seorang teman, wartawan situs berita.
"Biar wartawannya ikhlas dibayar murah, tanpa harus menuntut uang lembur..."kata teman yang lain, wartawan surat kabar harian.
*menghela nafas panjang*
Lalu apa yang membuat kami bertahan hingga tengah malam, walau liputan sejak pagi? Mungkin ada perasaan 'takut kebobolan' dan tidak dapat berita bagus? Atau tidak mau kehilangan momen, yang bisa jadi sangat bersejarah di masa mendatang? Atau malah lebih sederhana: takut dimarahi bos di kantor?
Entah..
Anehnya lagi, beberapa saat setelah percakapan itu teman wartawan lain berucap: "Semoga ini tahun terakhir jadi wartawan.."
Hahaha. Ucapan yang (menurut pengakuannya) diucapkan tiap tahun, sejak bertahun-tahun lalu. Tapi tetap saja dia bertahan jadi wartawan.
Atas alasan apa dia bertahan? Entah. Alasan nasib, barangkali..
Rabu, 13 Januari 2010
detakan
suatu malam kamu tanya, kenapa aku tidak pernah memegang tanganmu. kalau itu memang butuh jawaban...
karena tiap aku mendengar detak jantungmu yang beradu detak dengan jantungku, rasa-rasanya itu lebih dari sebuah genggaman, bahkan dekapan erat..
karena tiap aku mendengar detak jantungmu yang beradu detak dengan jantungku, rasa-rasanya itu lebih dari sebuah genggaman, bahkan dekapan erat..
Langganan:
Postingan (Atom)

