Pages

Kamis, 29 Mei 2014

Crowdsourcing dan Pemberdayaan Kerumunan di Jagat Maya

Foto: technorati.com

Jeff Howe haqqul yaqin dengan kekuatan internet. Sebagai seorang pengamat industri digital dan kontributor untuk majalah teknologi sekeren Wired, Howe tentu tak awam dengan cepatnya perkembangan digital di era internet yang mulai mengoptimalkan peran pengguna. Gejalanya memang terlihat dengan berkembangnya situs berbasis user generated content, dengan platform yang memungkinkan para pengguna berperan aktif sebagai pengisi konten.

Sabtu, 10 Mei 2014

Doxing dan Pelanggaran Privasi di Dunia Maya

foto: wonderhowto.com

Bagi aktivis dunia maya, Satoshi Nakamoto identik dengan tanda-tanya. Namanya mulai dibicarakan di 2009, sejak memperkenalkan Bitcoin, platform mata uang digital yang kini sudah digunakan untuk transaksi di internet. Tapi tidak ada satu orang pun yang tahu identitasnya. Sosoknya gelap. Nama Satoshi Nakamoto diduga sebagai alter-ego seseorang atau sekelompok orang pencipta Bitcoin yang tak ingin diketahui asal-usulnya. Seperti Batman atau Tuxedo Bertopeng yang bersembunyi di kelambu misteri.

Hingga pada 6 Maret 2014, Newsweek memuat tulisan tentang pria bernama Dorian Prentice Satoshi Nakamoto, dalam artikel berjudul "The Face Behind Bitcoin". Artikel yang ditulis Leah McGrath Goodman itu menyebut Dorian Nakamoto yang tinggal di Temple City, California, AS, sebagai Satoshi Nakamoto, sang pendiri Bitcoin.

Minggu, 20 Oktober 2013

Misteri Pengeboman Coventry dan Konspirasi Peristiwa 9/11



photo: telegraph.co.uk
Perang Dunia II memang terjadi lebih dari tujuh dasawarsa silam. Tapi masih banyak misteri yang menyelimuti berbagai peristiwa yang terjadi seputar perang yang sebagian besar terjadi di kawasan Eropa itu. Tentu kita tak akan membicarakan misteri mengenai holocaust, karena meragukan holocaust bisa dianggap sebagai sebuah sikap anti-semit dan rasis, bahkan untuk sekedar mempertanyakannya secara ilmiah.

Salah satu misteri yang paling menarik di Perang Dunia II adalah Pengeboman Coventry, yang lebih dikenal dengan nama peristiwa "Coventry Blitz". Peristiwa ini terjadi pada 14 November 1940. Ketika itu armada Luftwaffe atau Angkatan Udara Jerman membumihanguskan kota Coventry di Inggris dalam sebuah serangan yang dinamakan "Operasi Moonlight Sonata", yang diambil dari salah satu komposisi klasik karya Beethoven.

Nah, misteri terbesar dari peristiwa Coventry Blitz adalah: konon pasukan Sekutu sudah mengetahui adanya rencana "Operasi Moonlight Sonata" ini. Lalu mengapa Perdana Menteri Inggris Winston Churcill yang ketika itu memimpin komando Tentara Sekutu membiarkan Jerman menghancurkan Coventry?

Kamis, 16 Mei 2013

BlackBerry Messenger, Langkah Awal Perubahan BlackBerry?


Nama Nintendo memang sudah lekat dengan video game. Bagi generasi yang menghabiskan usia remaja di tahun '80an dan '90an, Nintendo merupakan keseharian. Nintendo adalah kasak-kusuk mencari jalan untuk menyelamatkan Zelda bersama Link. Nintendo adalah keterampilan mengendalikan Mario dan Luigi melompat di antara dunia yang dipenuhi pipa, kura-kura, juga matahari bernama Lakitu dengan landak-landak tajam yang dilemparkannya untuk melukai kepala.

Tapi tak ada yang menyangka kalau perusahaan yang didirikan Fusajiro Yamauchi pada 23 September 1989 ini punya sejarah metamorfosis yang panjang. Berawal sebagai pembuat kartu hanafuda yang merupakan permainan khas Jepang, Nintendo juga pernah membuka usaha hotel cinta. Tapi hotel yang memang dikenal sebagai lokasi bercinta dengan tarif per jam ini sepertinya aib bagi Nintendo. Hotel cinta pun ditutup, bisnisnya dikubur.

Apa yang dialami Nintendo bisa jadi pelajaran untuk BlackBerry. Seperti apa?

Kamis, 04 Oktober 2012

Identitas Pembeda (Baru) itu Bernama Gadget


Masa lalu BlackBerry sepertinya penuh diwarnai kesombongan. Saat iPhone pertama kali diperkenalkan pada 2007 silam, Mike Lazaridis, CEO Research in Motion saat itu (selaku produsen BlackBerry), meremehkan kehadiran iPhone.

Lazaridis sendiri sebenarnya sedang menanggapi optimisme pendiri Apple, Steve Jobs. Dengan yakin Steve Jobs pernah berkata bahwa Apple memiliki visi akan mengubah ponsel layaknya komputer dan menyingkirkan popularitas BlackBerry.

Mendengar ucapan Steve Jobs itu, Lazaridis malah mempertanyakan apa yang sudah dicapai Apple di pasaran. "Berapa yang dimiliki Apple di pasaran? Jelas kecil," ucap Lazaridis ketika itu, dilansir dari Gizmodo.

Utopia Kebebasan Pers



"Saat ini dalam sejarah dunia, di Amerika tidak ada yang namanya kebebasan pers. Kalian tahu itu dan saya tahu itu. Tidak ada satu pun di antara kalian yang berani menulis pendapat kalian dengan jujur, dan kalau kalian melakukannya, kalian sudah tahu bahwa pendapat itu tidak akan pernah dicetak. Saya dibayar perminggu untuk menjauhkan pendapat jujur saya dari koran tempat saya bekerja. Kalian juga ada yang dibayar dengan harga serupa untuk hal-hal seperti itu, dan siapa pun di antara kalian yang dengan bodohnya menulis pendapat jujur akan terlantar di jalanan mencari pekerjaan baru. Kalau saya membiarkan pendapat jujur saya muncul di salah satu terbitan koran saya, sebelum 24 jam pekerjaan saya sudah melayang. Tugas para jurnalis adalah menghancurkan kebenaran, berdusta sama sekali, menyesatkan, memfitnah, menjilat kaki dewa kekayaan dan menjual negara dan rasnya demi sesuap nasi sehari-hari. Kalian tahu itu dan saya tahu itu, dan kebodohan apa ini mengajak kita bersulang bagi kebebasan pers? Kita adalah alat-alat pengikut orang-orang kaya di balik panggung. Kita adalah dongkrak, mereka menarik benang lalu kita menari. Bakat kita, kemungkinan kita, dan hidup kita semua, adalah milik orang lain. Kita adalah pelacur intelektual". 

JOHN SWINTON |  Mantan Jurnalis New York Times

Senin, 17 Januari 2011

You Don't Know Jack


Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Mengenal Dekat Doctor Death

Janet Adkins menderita Alzheimer. Penyakit yang membuat Janet kehilangan fungsi sebagian otak. Sehingga Janet tidak bisa mengenali jalan menuju pintu rumah, bahkan dari halaman rumahnya sendiri. Kelak, dan ini ketakutan terbesarnya, Janet pun tidak dapat mengenali suaminya, anaknya, bahkan dirinya sendiri saat bercermin.

Dibanding melanjutkan hidup sebagai zombie, Janet kemudian memilih mati. Karena itu Janet dan suami kemudian menghubungi Jack Kevorkian, dokter pensiun dan ahli patologis, untuk membantunya menjadi pasien yang melakukan euthanasia. Janet merupakan pasien pertama Jack Kevorkian, yang kemudian dikenal sebagai tokoh euthanasia di Amerika Serikat.

Di dalam mobil van Volkswagen tua milik Jack yang terparkir di perkemahan publik, Jack ‘mendampingi’ Janet untuk mati atas pilihannya sendiri. Setelah Janet menekan tombol merah pada sebuah alat, maka cairan bius akan mengalir ke nadi Janet untuk membuatnya tidak sadar. Semenit kemudian, cairan potasium klorida akan mengalir ke nadi Janet hingga menghentikan detak jantungnya. Kematian yang dianggap Jack: “humane (manusiawi), dignified (memiliki kebanggaan), dan painless (tanpa rasa sakit).

Dalam melakukan euthanasia, Jack hanya mendampingi pasien dalam memilih mati (assisted suicide). Walau beberapa kali berurusan dengan aparat hukum dan pengadilan, Jack selalu lolos selama tidak ada regulasi yang menghukum asistensi bunuh diri di negara bagian Michigan.

Jack kemudian malah menjadikan tenar wacana euthanasia ke publik, tentu beserta perdebatannya. Apalagi setelah muncul dalam sampul Majalah Time pada 18 Juni 1990, yang menjulukinya: Doctor Death.

Tapi Jack punya alasan dalam melakukan euthanasia. Karena itulah Jack menolak calon pasien yang mengalami depresi dan menganggap euthanasia hanya wahana untuk bunuh diri.

“Anda mengalami depresi, dan harus mengalami perawatan medis. Kami hanya bisa membantu Anda menyarankan untuk menyembuhkan depresi, maka Anda akan melanjutkan hidup dengan bahagia,” demikian penolakan Jack melalui ucapan Janet Good, aktivis hak untuk mati yang juga rekan Jack, kepada pasien berusia 30-an itu.

Jack juga pernah menolak calon pasien yang menghubungi dan meminta euthanasia sesaat setelah divonis menderita Parkinson. “Karena Parkinson baru berdampak pada aktivitas sehari-hari beberapa tahun sejak Anda divonis. Kami akan membantu Anda saat itu tiba,” kata Jack.

You Don’t Know Jack memang judul yang cenderung provokatif untuk menggambarkan kisah tentang Jack Kevorkian. Sesuai judul, sutradara Barry Levinson berusaha mengajak penonton untuk mengenal sosok Jack Kevorkian secara personal, ketimbang “Doctor Death”.

Menarik pula untuk memperhatikan emosi yang dibangun antara Jack dengan sejumlah pasiennya yang melakukan euthanasia. Tidak hanya dengan Janet Adkins, hubungan Jack dengan pasien-pasien lain tersebut berhasil dibangun secara emosional.

Sosok Jack yang eksentrik dan keras kepala di satu sisi terlihat unik berdampingan dengan sisi Jack yang lain: sulit mengungkapkan emosinya. Sosok ahli patologis yang juga pelukis dan musisi jazz ini tampak sempurna diperankan Al Pacino.

Peran Al Pacino pun berhasil diimbangi Brenda Vaccaro yang berperan sebagai Margo Janus, adik Jack yang membantunya melakukan euthanasia. Danny Huston pun patut mendapat perhatian saat berperan sebagai Geoffery Fieger, pengacara Jack yang sukses meloloskan Jack dari jerat pengadilan selama dibelanya. Selain itu terdapat pula Susan Sarandon yang berperan sebagai Janet Good.

Film televisi produksi HBO untuk berdurasi 134 menit ini memang menarik dalam memperdebatkan kembali wacana euthanasia. Sebuah wacana tentang kewajiban dokter untuk menyembuhkan, juga keinginan pasien untuk mengakhiri penderitaan hidup dalam perawatan medis. Apalagi perawatan yang membutuhkan banyak biaya, namun tak memiliki harapan untuk pulih.

(Januari, 2010)

Rabu, 29 Desember 2010

Teralienasi Angka


pada mulanya, manusia menanda waktu bukan dengan satuan angka. tapi melalui butiran pasir yang menetes perlahan, atau melalui bayangan yang terpantul pancaran sinar matahari. analog, bukan digital.

entah kapan, siapa memulai, dan bagaimana, manusia memerangkap waktu dalam satuan angka. mungkin saat itulah manusia mulai mengalienasikan diri dalam angka.

bangun pada pukul 04.30; mandi pada pukul 06.15; berangkat dari rumah pukul 07.30; tiba di kantor pukul 09.00; makan siang pukul 12.00, et cetera, et cetera.

tidak hanya rutinitas, bahkan manusia modern pun mulai terjebak dalam angka di sebuah upaya penghiburan diri, seperti jadwal film pukul 18.45. saat bertemu tuhan pun, manusia masa kini terjebak dalam angka: sholat maghrib pukul 18.13, sebuah waktu sholat yang seharusnya menjadikan matahari terbenam sebagai penanda.

manusia masa kini tampaknya memang teralienasi dalam angka. registrasi kependudukan menyebabkan manusia memiliki nomor KTP. dalam kegiatan ekonomi, nomor rekening menjadi kebutuhan. kalau sakit, manusia membutuhkan nomor jaminan sosial untuk berobat. dan saling keterhubungan pun membutuhkan angka: nomor telepon.

tidak hanya itu, kualitas pun sering dinilai dengan angka. murid dengan indeks prestasi di atas 3, dianggap lebih pintar dari yang 2 koma. manusia dengan penghasilan atau gaji double digit dalam satuan juta, akan memperoleh status dan kedudukan mulia di mata masyarakat.

keberhasilan sebuah negara pun dinilai berdasarkan angka statistik. dengan pertumbuhan ekonomi mencapai angka 6 persen, sebuah negara akan dianggap berhasil. walaupun di tahun yang sama ada satu kampung yang sebagian besar penduduknya mati karena kelaparan.

tentang tuhan? perdebatan tuhan tunggal atau jamak mungkin menjadi contoh bentuk manusia yang teralienasi dengan angka. ahh, bagaimana dengan cara manusia yang mengingatnya dengan cara menyebut 3 x 33 kali? entahlah. tidak bijak juga bagi saya untuk mempertanyakan cara manusia berhubungan dengan tuhan.

hahaha.. tuhan, saya meracau lagi. racauan yang sebenarnya disebabkan masalah sederhana: punya bos yang terobsesi dengan angka. sehigga menilai kualitas anak-buahnya hanya berdasarkan angka. hanya berdasarkan berapa jumlah pageviewer yang didapat dari berita-berita yang dibuat. angka pageviewer itu bahkan yang membunuh idealisme pembentukan media yang fokus dengan permasalahan korupsi. terbukti dengan matinya kanal korupsi.

sampai kapan saya bertahan? entahlah, saya hanya tidak ingin menjadikan angka sebagai alasan dan target untuk bertahan atau pergi.

29122011/07:08

Rabu, 03 November 2010

seperti apa tuhan?

suatu hari, seorang ustadz memberikan ceramah. "tuhan tidak terlihat, tapi terasa keberadaannya."

tiba-tiba saya menceletuk, "kaya kentut dong yah.."

sedikit menahan emosi, ustadz itu kemudian meralat. "tuhan bukan seperti kentut, tapi seperti udara! segar dan dibutuhkan manusia untuk hidup."

secara spontan pula saya merespon. "berarti di luar angkasa gak ada tuhan yah, kan di sana hampa udara.."
setelah berpikir lama, ustadz yang menahan marah itu kemudian melanjutkan lagi. "kalau begitu tuhan seperti listrik. tidak terlihat, namun menjadi daya pembangkit yang besar." 

saya kemudian merespon lagi. "kalau begitu, kalau pakai sandal jepit, kita tidak akan 'kesetrum' tuhan dong?"

tiba-tiba, ustadz menampar saya. matanya terlihat memerah, lalu berkata dengan nada meninggi:

"sakit?! seperti itulah tuhan! seperti rasa sakit! bisa dirasakan, tapi tidak terlihat.."

dengan menahan sakit, saya masih menjawab: "tapi sakit ini bersifat sementara. apakah tuhan juga?"

ustadz itu makin galak, kemudian berteriak. "jadi kamu menolak adanya tuhan?!

dengan menahan marah dan berusaha santun, saya hanya menjawab: "tidak! saya hanya menolak semua analogi manusia tentang tuhan. karena udara, listrik, bahkan rasa sakit adalah makhluq (yang diciptakan). bagaimana mungkin kholiq (sang pencipta) dianalogikan serupa makhluq."

saya dan ustadz itu kemudian sama-sama terdiam. walau begitu, mungkin masing-masing benak kami tidak akan pernah pernah terdiam untuk bertanya. "seperti apa tuhan?"

Sabtu, 16 Oktober 2010

Sulitnya Mencari Jenazah di Wasior Saat Presiden Datang


Wasior - Abdul Mamiek (43 tahun) menatap lekat pohon-pohon dan batu besar yang menimpa reruntuhan rumah-rumah di Teluk Wondama, Wasior, Papua Barat. Mamiek menduga di antara timbunan pohon, batu, dan lumpur itulah anaknya, Afdhalalul Ikhsan (21 tahun), terkubur banjir bandang saat bencana itu melanda Wasior.

"Di sekitar situ anak saya terkubur," kata Mamiek sambil menunjuk salah satu pohon besar, Kamis pagi, 14 Oktober 2010. "Lokasi itu juga saya tahu setelah tanya kepada warga di sini," lanjut Mamiek.

Usai menunjuk, Mamiek pun tak kuasa menahan tangis kehilangan Said, panggilan Afdhalalul, anak sulungnya yang baru tinggal di Wasior selama dua bulan. Di Wasior, Said bekerja sebagai tukang cuci foto dan ikut bersama adik perempuan Mamiek (tante Said) yang sekarang tinggal di pengungsian.

Ketika banjir bandang melanda Wasior, Mamiek sedang berada di Makasar. Saat mendapat kabar, seketika itulah Mamiek berusaha terus mencari Said yang masih dianggapnya hilang.

"Saya dapat kabar dia (Said) sedang tidur saat banjir itu datang. Sudah dibangunkan, tapi tidak sempat. Batu dan pohon besar itu menimpa rumah, tapi tidak ada yang tahu dia ke mana," ucap Mamiek sambil memegangi foto Said.

Sejak pertama tiba di Wasior, Selasa, 12 Oktober 2010, Mamiek pun terus berusaha mencari keberadaan Said. Termasuk jenazahnya, jika memang anaknya mati tertimbun lumpur akibat banjir bandang.

Mamiek terus meminta alat berat seperti ekskavator untuk mencari 'anaknya' di antara timbunan batu dan pohon besar. Namun, menurut Mamiek, pencarian korban hilang dihentikan sementara saat Wasior bersiap menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 14 Oktober 2010.

"Secara spontan saya minta ekskavator untuk gali. Tapi dikatakan: 'Kita tidak lakukan dulu itu, kita utamakan bersihkan jalan karena presiden mau datang'," tutur Mamiek sambil menyeka air yang masih tertahan di matanya.

Walau tidak mendapat bantuan, Mamiek mengaku akan terus mencari keberadaan 'anaknya' yang hilang. "Bagaimana pun saya terus mencari, dengan adanya bantuan ataupun tidak," ujar Mamiek.

Namun, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengatakan tidak ada penghentian sementara pencarian korban hilang. Menurut Syamsul, pencarian sementara hanya dihentikan di lokasi yang dilewati Presiden SBY.

"(Penghentian sementara) itu kan hanya pada titik yang dilewati Presiden. Sedangkan ada 18 titik yang pelaksanaannya tetap jalan, dengan 40 alat berat," ucap Syamsul yang ditemui di hotel tempat rombongan Presiden menginap di Manokwari, usai mengunjungi Wasior, 14 Oktober 2010.

Bayu Galih, Oktober 2010