Pages

Tampilkan postingan dengan label wonderfulworld. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wonderfulworld. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2009

Sebelum Mati....

Tuhan.. Sebelum saya mati, kabulkanlah beberapa permintaan. Tidak banyak, kok, Tuhan..

Saya ingin menyanyikan lagu "You'll Never Walk Alone" di suatu pertandingan Liverpool di Anfield, sebelum mereka pindah markas. Ingin juga menikmati sudut Quartier Latin, Paris, sambil belajar bahasa Prancis,kalimat2 selain "l'etat cest moi" atau "dur dur detre baby". Eh, tapi penasaran juga lihat Abbey Road, siapa tahu bisa foto sambil nyebrang kaya The Beatles itu lho, Tuhan.

Hmm.. Tapi Tuhan, kayaknya perjalanan membelah sungai-sungai di Eropa juga menarik. Namanya apa Tuhan: Seine? Rheine? Thames? Yang katanya lebih bersih dr Ciliwung, ya?

Tuhan, saya ingin melihat migrasi lumba-lumba di perairan pasifik. Atau lihat paus putih besar, yang konon beratnya 32 kali gajah Afrika. Ingin juga lihat langsung cheetah yang lari mengejar impala di afrika. Atau main-main sama penguin, kayaknya lucu juga.

Hehe, terkadang punya pikiran iseng juga.. Ingin berenang bareng piranha di amazone. Atau dalam perjalanan mencari El Dorado itu.. Hmm, kayaknya menyusuri lorong-lorong tua di Yerusalem juga menarik. Apalagi kalo bisa ngerasain menyusuri terowongan rahasia dari Mesir yang menuju Gaza.

Hmm.. Pengen jg main2 ke Graceland. Terus lihat tugu2 yg katanya jd simbol2 freemason, di Washington itu, Tuhan... Hehe, jd pengen ikut tour menyusuri tempat-tempat di Da Vinci Code. Serasa jd Langdon banget dah...

Oh iya Tuhan.. Kayaknya saya juga pengen liat tempat syuting Lord of the Ring itu.. Di New Zealand ya? Atau pengen liat kastil-kastil, yg kaya Hogwarts itu..

Hehe.. Tenang aja Tuhan.. Saya ga lupa koq. Saya jg pengen lihat rumahMU, yang kotak nan hitam itu. Hmm.. Pingin liat juga heroisme bukit Uhud. Tempat rasulullah pernah bersimbah darah. Sungguh jauh dari pemimpin sekarang yang cuma bersimbah harta.

Ahh, banyak banget ya minta saya... Tapi Tuhan.. Bantu wujudin dong. Setidaknya untuk lihat Leang2 di Sulawesi yg penuh lukisan prasejarah itu. Atau menyusuri hutan2 dan sungai2 kalimantan. Atau snorkling dan diving di wakatobi dan rajaampat. Atau... Ahh.. Banyak bgt yg mo saya lihat, alami, rasakan, Tuhan... Sebelum mati!

Minggu, 02 November 2008

Love, Peace, and Beatbox


Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Documentary
Konon ada lima unsur hip hop: Rap, DJ-ing, Breakdance, Grafiti, dan Beatbox. Namun, menurut para beatboxer, Beatbox bukan sekedar Hip hop, melainkan seni perkusi mulut yang bisa juga memainkan jazz, raggae, dance hall, bahkan tradisional. Begitu juga dengan film Love, Peace, and Beatbox, sebagai sebuah film yang bukan sekedar film dokumenter musik semata.

Film karya Volker Meyer-Dabisch ini menggambarkan komunitas beatbox di Berlin. Tentang bagaimana mereka menunjukkan skill ajaib dengan mengolah berbagai suara menjadi ritme musik yang asyik. Tentang bagaimana perjuangan mereka untuk menunjukkan eksistensinya. Juga tentang filosofi setiap kegiatan: dari jam session, battle, hingga competition.

Film ini juga memperlihatkan bahwa Beatbox sudah dikenal di Berlin pada tahun ‘80-an awal, sama dengan perkembangan Beatbox di negara asalnya: Amerika Serikat. Saat itu seorang bernama Maxim mulai memperkenalkan beatbox kepada anak muda Berlin.

Sontak apa yang diperkenalkan Maxim disambut anak muda di Berlin, yang saat itu masih terbagi oleh tembok di tengah kota. Perlahan, beatbox pun menjadi pesan perdamaian untuk menghilangkan ‘batas’ tembok dan pandangan politik Timur-Barat Berlin. Juga menjadi pesan damai untuk melupakan perbedaan ras Eropa, Turki, dan Arab, di saat masalah imigran menjadi hal yang besar karena dipolitisasi.

Hal menarik lain dari film Love, Peace, and Beatbox adalah melihat bagaimana suatu budaya Afro-Amerika seperti Beatbox, diapresiasi di Jerman, sebuah negara yang pernah sombong setengah mati saat Hitler melantangkan Deutsch Uber Alles. Sebuah bukti bahwa budaya bisa lihai menembus pagar-identitas hasil konstruksi manusia.

(Love, Peace, and Beatbox, merupakan salah satu film yang diputar dalam rangkaian acara Europe on Screen 2008. Tidak hanya pemutaran film, tapi juga disertai aksi beatboxing dari Mando, Juara Kompetisi Beatboxing Jerman 2006 dan 2007.)

Senin, 06 Oktober 2008

Laskar Pelangi


Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Education
Rasulullah Muhammad pernah mengatakan "surga di bawah naungan pedang"... Sebuah pernyataan yang kemudian menjadi legitimasi mereka untuk mencari surga dengan pedang, perang, juga aksi istisyahidah. Tapi, siapalah saya untuk men-judge benar-tidaknya pencarian mereka akan surga... Hanya saja, ada pencarian akan surga yang lebih humanis, yang diajarkan Ibu Muslimah dan Pak Harfan di Laskar Pelangi.

Dengan penuh keikhlasan, mereka percaya bahwa pencarian akan surga bisa ditempuh dengan cara "mengajarkan anak-anak akan akhlaqul karimah". Walau mereka hanya dibayar dengan beberapa karung beras tiap bulan. Walau dengan ancaman bahwa suatu saat anak-anak ini akan berhenti sekolah karena harus membantu orang tuanya dengan bekerja, sesuatu yang sebenarnya merampas masa kanak-kanak mereka.

Setiap pengajaran yang berasal dari hati, akan terhujam pula di hati murid-murid yang diajarkan. Dengan hati pula murid-murid ini berusaha meraih pendidikan. Bukan pendidikan yang indikasi suksesnya diukur dengan angka. Tapi juga pendidikan bahwa seorang anak dari pulau kecil bernama Belitong bisa mewujudkan mimpinya untuk kuliah hingga ke Sorbonne, Prancis.

Kemudian saya berpikir, untuk itulah Tuhan menciptakan surga. Sebagai tempat yang sangat layak untuk mereka yang telah mengorbankan harta dunia dan segala isinya demi idealisme mereka, yang absurd dan tidak dimengerti semua orang tentunya. Tapi tentu Tuhan mengerti akan keikhlasan itu... (Oktober, 2008)

Kamis, 02 Oktober 2008

Man On The Moon


Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
“What’s real? What’s not? That’s what I do in my act, test how other people deal with reality.” (Andy Kaufman, 1949 - 1984)

Andy Kaufman bukan seorang komedian. Walau demikian Andy sering membuat orang tertawa saat menjadi karakter Foreign Man (orang asing dari salah satu pulau di Caspia yang tenggelam), Latka (di sitkom Taxi), bahkan ketika menjadi Tony Clifton, alter-ego Andy yang kadang juga diperankan sahabat Andy, Bob Zmuda. Seperti yang dikatakannya, “I never told a joke in my life.” Bagi Andy, “There’s no way to describe what I do. It’s just me.”

Memang dalam hidup seorang Andy Kaufman seakan tidak ada batas antara realitas dengan non-realitas. Semua yang dilakukan Andy dianggap orang lain hanyalah manipulasi untuk kesenangannya “to test how other people deal with reality.”

Maka kemudian semua yang dilakukan Andy dianggap lelucon, akting, dan manipulasi. Seperti halnya ketika Andy benci ketika orang-orang terus memintanya berperan sebagai Latka di suatu pertunjukan, maka Andy membacakan The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald sepanjang pertunjukan sebagai ekspresi kemarahannya untuk menghukum orang yang dianggap tidak pernah bisa mengerti dirinya. Dan tetap orang menganggapnya sebagai lelucon, yang sangat membosankan.

Tony Clifton sebagai alter-ego Andy merupakan contoh lain masterpiece manipulasi Andy. Awalnya Andy Kaufman dan Bob Zmuda menghadirkan karakter Tony Clifton sebagai bentuk “ekspresi” dari kebosanan Andy yang terlanjur identik dengan Latka. Karena kelak Tony Clifton tetap eksis walaupun Andy telah meninggal karena kanker paru-paru. Dan itu akan membuat orang bertanya-tanya, “Apakah kematiannya dimanipulasi?”

Ya, bahkan orang menganggap kematiannya dimanipulasi. Keluarga Andy pun ragu saat Andy bilang menderita kanker paru-paru, karena selama hidupnya Andy tidak pernah merokok, minum alkohol berlebihan, bahkan dikenal sebagai vegetarian. Bahkan adiknya, Carol, melihat keanehan: Dokter Andy memakai sepatu tenis saat bekerja di Rumah Sakit. Hal yang membuatnya berpikir dokter itu merupakan seorang aktor yang menjalankan manipulasi Andy. Andy pernah mengatakan akan ‘mematikan’ diri, lalu hidup lagi 20 tahun kemudian. Namun pada 16 Mei 2004, saat teman-temannya mengadakan pesta “Selamat Datang” untuknya, Andy tidak pernah muncul.

Andy.. Andy.. Andy.. Bahkan REM pun membuat sebuah lagu untuknya… Man On The Moon. Karena Andy berhasil membuat orang bertanya-tanya akan mana yang realitas, mana yang tidak. Sama seperti realita apakah manusia pernah mendarat di bulan, yang diragukan banyak orang hingga sekarang. Dari Andy Kaufman, manusia mungkin harus sering berpikir akan apa yang real, dan apa yang dikonstruksikan. Hingga tidak terjebak akan kemasan luar seseorang, atau sekelompok orang. (September, 2008)