Pages

Tampilkan postingan dengan label mysocalledlife. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mysocalledlife. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Desember 2010

Teralienasi Angka


pada mulanya, manusia menanda waktu bukan dengan satuan angka. tapi melalui butiran pasir yang menetes perlahan, atau melalui bayangan yang terpantul pancaran sinar matahari. analog, bukan digital.

entah kapan, siapa memulai, dan bagaimana, manusia memerangkap waktu dalam satuan angka. mungkin saat itulah manusia mulai mengalienasikan diri dalam angka.

bangun pada pukul 04.30; mandi pada pukul 06.15; berangkat dari rumah pukul 07.30; tiba di kantor pukul 09.00; makan siang pukul 12.00, et cetera, et cetera.

tidak hanya rutinitas, bahkan manusia modern pun mulai terjebak dalam angka di sebuah upaya penghiburan diri, seperti jadwal film pukul 18.45. saat bertemu tuhan pun, manusia masa kini terjebak dalam angka: sholat maghrib pukul 18.13, sebuah waktu sholat yang seharusnya menjadikan matahari terbenam sebagai penanda.

manusia masa kini tampaknya memang teralienasi dalam angka. registrasi kependudukan menyebabkan manusia memiliki nomor KTP. dalam kegiatan ekonomi, nomor rekening menjadi kebutuhan. kalau sakit, manusia membutuhkan nomor jaminan sosial untuk berobat. dan saling keterhubungan pun membutuhkan angka: nomor telepon.

tidak hanya itu, kualitas pun sering dinilai dengan angka. murid dengan indeks prestasi di atas 3, dianggap lebih pintar dari yang 2 koma. manusia dengan penghasilan atau gaji double digit dalam satuan juta, akan memperoleh status dan kedudukan mulia di mata masyarakat.

keberhasilan sebuah negara pun dinilai berdasarkan angka statistik. dengan pertumbuhan ekonomi mencapai angka 6 persen, sebuah negara akan dianggap berhasil. walaupun di tahun yang sama ada satu kampung yang sebagian besar penduduknya mati karena kelaparan.

tentang tuhan? perdebatan tuhan tunggal atau jamak mungkin menjadi contoh bentuk manusia yang teralienasi dengan angka. ahh, bagaimana dengan cara manusia yang mengingatnya dengan cara menyebut 3 x 33 kali? entahlah. tidak bijak juga bagi saya untuk mempertanyakan cara manusia berhubungan dengan tuhan.

hahaha.. tuhan, saya meracau lagi. racauan yang sebenarnya disebabkan masalah sederhana: punya bos yang terobsesi dengan angka. sehigga menilai kualitas anak-buahnya hanya berdasarkan angka. hanya berdasarkan berapa jumlah pageviewer yang didapat dari berita-berita yang dibuat. angka pageviewer itu bahkan yang membunuh idealisme pembentukan media yang fokus dengan permasalahan korupsi. terbukti dengan matinya kanal korupsi.

sampai kapan saya bertahan? entahlah, saya hanya tidak ingin menjadikan angka sebagai alasan dan target untuk bertahan atau pergi.

29122011/07:08

Sabtu, 16 Oktober 2010

Sulitnya Mencari Jenazah di Wasior Saat Presiden Datang


Wasior - Abdul Mamiek (43 tahun) menatap lekat pohon-pohon dan batu besar yang menimpa reruntuhan rumah-rumah di Teluk Wondama, Wasior, Papua Barat. Mamiek menduga di antara timbunan pohon, batu, dan lumpur itulah anaknya, Afdhalalul Ikhsan (21 tahun), terkubur banjir bandang saat bencana itu melanda Wasior.

"Di sekitar situ anak saya terkubur," kata Mamiek sambil menunjuk salah satu pohon besar, Kamis pagi, 14 Oktober 2010. "Lokasi itu juga saya tahu setelah tanya kepada warga di sini," lanjut Mamiek.

Usai menunjuk, Mamiek pun tak kuasa menahan tangis kehilangan Said, panggilan Afdhalalul, anak sulungnya yang baru tinggal di Wasior selama dua bulan. Di Wasior, Said bekerja sebagai tukang cuci foto dan ikut bersama adik perempuan Mamiek (tante Said) yang sekarang tinggal di pengungsian.

Ketika banjir bandang melanda Wasior, Mamiek sedang berada di Makasar. Saat mendapat kabar, seketika itulah Mamiek berusaha terus mencari Said yang masih dianggapnya hilang.

"Saya dapat kabar dia (Said) sedang tidur saat banjir itu datang. Sudah dibangunkan, tapi tidak sempat. Batu dan pohon besar itu menimpa rumah, tapi tidak ada yang tahu dia ke mana," ucap Mamiek sambil memegangi foto Said.

Sejak pertama tiba di Wasior, Selasa, 12 Oktober 2010, Mamiek pun terus berusaha mencari keberadaan Said. Termasuk jenazahnya, jika memang anaknya mati tertimbun lumpur akibat banjir bandang.

Mamiek terus meminta alat berat seperti ekskavator untuk mencari 'anaknya' di antara timbunan batu dan pohon besar. Namun, menurut Mamiek, pencarian korban hilang dihentikan sementara saat Wasior bersiap menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 14 Oktober 2010.

"Secara spontan saya minta ekskavator untuk gali. Tapi dikatakan: 'Kita tidak lakukan dulu itu, kita utamakan bersihkan jalan karena presiden mau datang'," tutur Mamiek sambil menyeka air yang masih tertahan di matanya.

Walau tidak mendapat bantuan, Mamiek mengaku akan terus mencari keberadaan 'anaknya' yang hilang. "Bagaimana pun saya terus mencari, dengan adanya bantuan ataupun tidak," ujar Mamiek.

Namun, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengatakan tidak ada penghentian sementara pencarian korban hilang. Menurut Syamsul, pencarian sementara hanya dihentikan di lokasi yang dilewati Presiden SBY.

"(Penghentian sementara) itu kan hanya pada titik yang dilewati Presiden. Sedangkan ada 18 titik yang pelaksanaannya tetap jalan, dengan 40 alat berat," ucap Syamsul yang ditemui di hotel tempat rombongan Presiden menginap di Manokwari, usai mengunjungi Wasior, 14 Oktober 2010.

Bayu Galih, Oktober 2010

Sabtu, 11 September 2010

Di Gerbang Istana




di gerbang istana, kemarin, ribuan orang berdesakan. kala itu, istana sedang mengadakan open house. iya, open house.. yang berarti (seharusnya) kemarin istana benar-benar membuka pintunya kepada semua orang yang akan masuk ke dalamnya: melihat kemegahan bangunan, keindahan taman, hingga bersalaman dengan raja penghuni istana.

dalam setahun, open house memang diadakan sekali, saat idul fitri. ini berarti dalam 364 hari (365 di tahun kabisat) yang lain, istana menjaga jarak dengan rakyatnya.

ironisnya, dalam open house setahun sekali itu pun jelata sulit sekali bertemu rajanya. mereka dipaksa berdesakan, menanti giliran masuk, hanya untuk bersalaman dengan rajanya. di depan gerbang sekretariat negara, yang anggaran pembuatan gerbangnya pun mampu kasih makan satu kampung miskin untuk dua tahun!

hingga seorang tunanetra bernama joni malela pun kemudian meninggal dunia akibat berdesakan di gerbang istana...

tapi kemudian, santer beredar kabar: rakyat berdesakan bukan semata untuk bertemu rajanya. tapi karena ada uang yang diberikan, usai bersalaman dengan raja.

setelah ditelusuri, ternyata memang ada uang Rp 100 ribu yang diberikan kepada penyandang cacat usai bersalaman dengan raja. tentu saja bukan salah para jelata apabila rela berdesakan di depan gerbang istana demi uang semata.

toh, dalam open house yang hanya sehari itu, mereka punya harapan akan bentuk 'kesejahteraan' nyata yang diberikan raja kepada rakyatnya. walaupun hanya Rp 100 ribu!

kesejahteraan pula yang tidak bisa diberikan sang raja kepada rakyatnya dalam 364/365 hari yang lain!

tiba-tiba, muncul kerinduan akan sosok pemimpin yang tidak pernah tinggal di istana, walaupun mampu untuk membangunnya. pemimpin yang terbiasa tidur di alas kasar hingga berbekas di punggungnya. pemimpin yang mau bertanggung jawab atas setiap lubang jalan yang ada di negerinya.
  
juga pemimpin yang ikut merasakan lapar, di saat rakyatnya kelaparan. bahkan hingga mengganjalnya dengan batu untuk menahan lapar.

(duka terdalam untuk joni malela)

11 September 2010

Senin, 19 April 2010

Hitam di Langit Koja, 14 April 2010

Saya yakin, saat itu saya sedang tidak berada di Tikrit atau Gaza. Tapi dentuman terdengar dari segala penjuru. Langit menghitam oleh asap dari kendaraan yang dibakar. Sore itu, saya ada di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, 14 April 2010.

Saat itu, amarah jelas terpancar di banyak wajah: Bahkan dengan senjata tajam yang siap terhunus. Selain amarah, terlihat pula wajah pucat ribuan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Sebelumnya, ribuan wajah itu terlihat garang menyerang massa yang berkumpul di makam Habib Hassan al Haddad, yang dikenal juga dengan sebutan Mbah Priok. Namun, ketika terjepit, terkepung, dan tersudut, pucat merupakan ekspresi wajar manusia menghadapi kematian.

Siang itu, lima tubuh Satpol PP dalam keadaan tak berdaya ikut saya gotong ke pinggiran. Setidaknya, agar tidak terus dipukul, ditikam, habis-habisan.

Dalam keadaan kritis, saya sempat mendengar dari mulut yang tidak berdaya itu terucap: “Ya Allah.. Tolong saya..” Tapi dari massa yang menghajar, saya mendengar nama yang sama disebut: Allah. Entah berpihak kepada siapa Dia saat itu.

Saya ingat, salah satu Satpol PP yang saya gotong, tertera nama W. Soepono di seragamnya. Soepono menjadi salah satu korban tewas bersama Ahmad Tadjuddin dan Israel Jaya. Saya tidak ingat apakah Israel dan Tadjuddin juga saya gotong saat itu.

Entah apa yang saya rasakan saat itu, yang pasti saya sedih ketika membaca sms yang mengabarkan kematian Soepono. Tapi saya kemudian marah ketika mendengar pidato Presiden!

Di Priok, tidak ada polisi saat itu, karena hukum tidak berlaku. Tapi sikap Presiden yang menyalahkan Pemerintah Provinsi dan mengkambing hitamkan media, membuat saya makin prihatin dengan negeri ini.
Allah… Entah kepada siapa kau berpihak saat itu… Sampai kapan kami harus pasrah dengan keadaan negeri ini.

Kami tidak lagi punya pemimpin yang bisa diharapkan untuk mensejahterakan rakyatnya.. Tapi setidaknya, jangan biarkan kami saling benci, apalagi saling membunuh!

Jumat, 27 Februari 2009

Sunduquna Juyubuna Itu....

Seorang teman yang kader sebuah partai bercerita romantika masa lalu. Ketika partai itu masih partai kecil. Begitu kecilnya hingga tidak lulus electoral threshold..

Walau demikian, militansi kader partai itu sangat tinggi. Dengan bekal semangat mencari ridhoNya, bahkan ketika kampanye pun modal untuk bikin atribut berasal dari kantong sendiri.

Sunduquna juyubuna, demikian istilah arabnya. Kurang lebih berarti dana partai berasal dari kantong kader-kadernya. Istilah yang kemudian berkembang menjadi Partai Kantong Sendiri.

Nah, teman itu bercerita. Karena kondisinya demikian, atribut partai pun menjadi sangat berharga. Andai suatu ranting hanya bisa punya 50 bendera dan 5 spanduk, maka itu akan diinventarisir. Itu akan dicatat di mana saja bendera dan spanduk itu dipasang. "Bahkan kalau perlu dicuci biar kelihatan baru," katanya.

Hmm.. Tiba-tiba saya teringat ketika partai ini masih Partai Kecil pada pemilu '99. Memang partai ini sudah mampu untuk bikin iklan. Tapi iklannya tidak pernah dipasang pada saat prime time. Biasanya hanya ada saat acara kuliah subuh.

Hmm.. Tentu waktu itu ghiroh keislaman masih kental di partai itu. Hingga seolah-olah segmen yang diincar tertentu saja. Ya itu, yang biasanya lihat tivi setelah sholat subuh.

Tapi yang lebih menarik, kapan saja iklan itu akan tayang diinfokan juga ke kadernya. Jadi kader-kader dapat jadwal penayangan iklan itu. Dari tanggal, jam penayangan, hingga di acara apa akan ditayangkan. Karena, ya sunduquna juyubuna itu. Kader perlu lihat seperti apa iklan itu jadinya. Toh iklan itu juga dibuat karena dananya berasal dari kantong para kader.

Sekarang.. Partai ini sudah agak besar. Posisinya pun strategis. Konon akan jadi kunci kemenangan 3 capres dari partai merah, kuning, biru.

Hmm.. Entah apa ini juga terjadi di daerah lain. Rasa-rasanya, di Jakarta aktifitas mencuci lagi atribut jadi hal yang langka. Karena mungkin dana untuk bikin atribut bukan lagi sesuatu yang sulit didapat.

Iklan yang dibuat pun sudah ditayangkan saat prime time. Dengan penggambaran yang lebih modern. Hmm.. Saya pikir, penyebaran fotokopian jadwal penayangan iklan tidak lagi ada di masa sekarang.

Hmm.. Mungkin kadernya terlalu ikhlas dan tsiqoh untuk apa saja kantong mereka digunakan. Atau sudah terlalu banyak dana yang ada sekarang, dibanding ketika masih Partai Kecil.

Toh buat apa cuci atribut kalau bisa beli baru. Buat apa pasang iklan saat kuliah subuh, kalau bisa pasang di prime time. Tidak perlu repot untuk membagikan jadwal penayangan iklan juga, kan...?

Hmm.. Mungkin partai ini kini punya kader yang banyak. Atau tingkat ekonomi kadernya meningkat. Hingga dana yang katanya sunduquna juyubuna bukan lagi masalah.

Hmm.. Konon, ada juga pengusaha yang bersimpati. Sampai gosipnya (ingat ini baru gosip ya, karena belum saya konfirmasi) mau membiayai pembuatan gedung untuk dijadikan markas DPP yang baru di TB Simatupang. Namun pengusaha itu dianggap bermasalah oleh beberapa kadernya (atau mantan kader), karena termasuk salah satu pengemplang dana BLBI.

Hmm.. Namun semakin menarik ketika akhirnya, nama pengusaha itu disebut-sebut sebagai salah satu alternatif opsi untuk cawapres dari partai itu. Dan yang menyebut juga salah satu kader terbaik partai. Walau akhirnya pasti dibantah Presiden partai: "Itu masih pendapat pribadi. Keputusan ada di majelis syuro."

Hmm.. Hasan Hudaibi, salah seorang mantan Mursyid Aam Ikhwanul Muslimin, pernah mengatakan: "Anjing tidak pernah menggonggong kepada tuannya yang memberikan tulang.."

Dalam konteks ini, sunduquna juyubuna adalah harga diri. Adalah martabat. Walau mungkin harus mencuci atribut, menginventaris, dan mencatat di mana saja atribut itu dipasang. Walau hanya bisa pasang iklan di saat kuliah subuh, thok.

Hmm.. Saya hanya bisa mengatakan ke teman itu. Sabarlah.. Mungkin ini fase fitnah dalam roda hidup. Andai fase berikutnya adalah mihnah, fase ketika Allah menyaring orang-orang yang istiqomah di jalanNya, berdoa semoga kita termasuk yang lolos saringan. Amiin..

Senin, 09 Februari 2009

Sebelum Mati....

Tuhan.. Sebelum saya mati, kabulkanlah beberapa permintaan. Tidak banyak, kok, Tuhan..

Saya ingin menyanyikan lagu "You'll Never Walk Alone" di suatu pertandingan Liverpool di Anfield, sebelum mereka pindah markas. Ingin juga menikmati sudut Quartier Latin, Paris, sambil belajar bahasa Prancis,kalimat2 selain "l'etat cest moi" atau "dur dur detre baby". Eh, tapi penasaran juga lihat Abbey Road, siapa tahu bisa foto sambil nyebrang kaya The Beatles itu lho, Tuhan.

Hmm.. Tapi Tuhan, kayaknya perjalanan membelah sungai-sungai di Eropa juga menarik. Namanya apa Tuhan: Seine? Rheine? Thames? Yang katanya lebih bersih dr Ciliwung, ya?

Tuhan, saya ingin melihat migrasi lumba-lumba di perairan pasifik. Atau lihat paus putih besar, yang konon beratnya 32 kali gajah Afrika. Ingin juga lihat langsung cheetah yang lari mengejar impala di afrika. Atau main-main sama penguin, kayaknya lucu juga.

Hehe, terkadang punya pikiran iseng juga.. Ingin berenang bareng piranha di amazone. Atau dalam perjalanan mencari El Dorado itu.. Hmm, kayaknya menyusuri lorong-lorong tua di Yerusalem juga menarik. Apalagi kalo bisa ngerasain menyusuri terowongan rahasia dari Mesir yang menuju Gaza.

Hmm.. Pengen jg main2 ke Graceland. Terus lihat tugu2 yg katanya jd simbol2 freemason, di Washington itu, Tuhan... Hehe, jd pengen ikut tour menyusuri tempat-tempat di Da Vinci Code. Serasa jd Langdon banget dah...

Oh iya Tuhan.. Kayaknya saya juga pengen liat tempat syuting Lord of the Ring itu.. Di New Zealand ya? Atau pengen liat kastil-kastil, yg kaya Hogwarts itu..

Hehe.. Tenang aja Tuhan.. Saya ga lupa koq. Saya jg pengen lihat rumahMU, yang kotak nan hitam itu. Hmm.. Pingin liat juga heroisme bukit Uhud. Tempat rasulullah pernah bersimbah darah. Sungguh jauh dari pemimpin sekarang yang cuma bersimbah harta.

Ahh, banyak banget ya minta saya... Tapi Tuhan.. Bantu wujudin dong. Setidaknya untuk lihat Leang2 di Sulawesi yg penuh lukisan prasejarah itu. Atau menyusuri hutan2 dan sungai2 kalimantan. Atau snorkling dan diving di wakatobi dan rajaampat. Atau... Ahh.. Banyak bgt yg mo saya lihat, alami, rasakan, Tuhan... Sebelum mati!

Sabtu, 26 Januari 2008

Munir dan Garuda (Sebuah Ironi Menyedihkan)

     Ada adegan menyedihkan yang terdapat di sebuah film dokumenter tentang Munir. Jadi sewaktu itu Suciwati, istri Munir, bertanya ke suaminya: "Mas, kenapa kok milih Garuda? Firasat saya kok enggak enak. Kenapa ngga naik yang lain aja?"
    Kemudian Munir menjelaskan. "Saya ini naik Garuda bukannya kenapa-kenapa. Karena gimana pun juga Garuda itu kan punya Pemerintah. Jadi duitnya ke rakyat juga. Dibanding saya naik yang lain (Singapore Airlines, Luthfansa, dll).."
    Tapi... Ternyata eh ternyata... Dalam perjalanan ke Belanda itulah Munir meninggal. Diracun Arsenik.
    Hidup itu memang seringkali lucu, ya?! Sering kita punya idealisme: demi rakyat, demi bangsa, demi agama, demi-demi lainnya (ngga termasuk demi moore, demi persik, atau demi sandra, btw, sandra demi *dewi maksudnya* cantik juga, ya kan?!) Ironis kalau ternyata idealisme itu yang membunuh kita.
    Sekedar catatan, mungkin kata "Garuda membunuh" adalah sebuah kontroversi. Tapi beberapa fakta persidangan bilang kalau ada beberapa orang Garuda terlibat: antara lain sang pilot Pollycarpus, dan sang Dirut Indra Setiawan. Beberapa juga mengaitkan kematian misterius Baharuddin Lopa di Arab Saudi setelah perjalanan dengan Garuda(?).
    Arrrrrgggggghhhhhhhhhhhhh..... Gw BENCI POLITIK! KOTOR! LUMPUR! NISTA!

*Renungan sepulang nongkrongin rumah Polly yang akhirnya divonis 20 tahun penjara. Sayangnya, gw masih merasa Polly sekedar tumbal. ngga ada orang BIN (bukan instansi intelejen sebenarnya) yang ditangkap.*

Kamis, 10 Januari 2008

Doa Seorang Reporter untuk Soeharto

Tuhan...

Kalau Kau berniat mengambil nyawa Soeharto, tolong jangan diambil pas weekend ya. Saya ingin menikmati liburan, Tuhan. Kalau bisa cabut nyawa Soeharto hari Selasa aja. Jadi kita sibuk dari Selasa sampai Jumat aja. Dan Tuhan, please... Jangan ambil nyawa Soeharto antara tanggal 18 - 20 Januari, ya. Saya udah ada rencana liburan brg temen2 kampus dulu.

Tuhan, tolong bilangin keluarga Soeharto dong... Pemakaman diadakan secara sederhana aja. Jadi kita ga perlu sibuk m'hubungin banyak pihak yang terkait dengan pemakaman. Trus kalo bisa dikuburnya di Kalibata aja. Soalnya parkirnya agak gede. Jadi kan motor saya bisa diparkir secara aman.

Tuhan, tolong bilangin keluarga Soeharto juga dong... Kalo bisa, setelah Soeharto meninggal, mereka jadi Muhammadiyah aja. Jadi ga akan pake acara selametan segala. (tapi jangan deh, ntar mba Tutut malah dipasangin brg Din Syamsuddin di 2009) Kan kasihan para reporter kalo sampe begadang cuma karena selametannya Harto. Atau sekalian jadi Jamaah Tabligh jg gpp. Siapa tau mereka tiba-tiba zuhud banget, dan hartanya dibagi ke rakyat miskin.

Tapi Tuhan, apabila Kau berkehendak menyembuhkan HMS, tolong jangan lama-lama, ya.. Jangan cabut nyawa HMS juga pas Piala Eropa. Kasian kami dong para pecinta bola. Nanti yg ada siaran live-nya cuma pemakaman Eyang..

Terima kasih, Tuhan...

HambaMu,
Reporter Kere




Sabtu, 29 Desember 2007

Bahagia Bukan Karena Coklat

    Seorang teman, Anton, pernah bilang kalau dia punya teman yang punya kebiasaan unik setiap stress atau merasa tidak bahagia. Orang itu akan naik ke loteng, lihat bintang sambil makan coklat. Karena konon coklat mengandung suatu zat (saya lupa namanya) yang bisa bikin bahagia. Zat yang katanya juga terdapat ketika seseorang jatuh cinta.

    Dahsyat. Kalau memang jatuh cinta identik dengan bahagia, berarti sudah lebih dari empat tahun saya tidak bahagia. Karena sudah lebih dari empat tahun saya tak merasakan jatuh cinta.

    Sebenarnya, bahagia itu apa, sih? Kalimat menarik ini juga pernah dibahas di film Vanilla Sky, waktu Cameron Diaz bertanya ke Tom Cruise: “What is happiness to you?!” Tom Cruise tak bisa menjawab, walau pun dalam film itu dia digambarkan sempurna: tampan, kaya, popular, sukses, juga punya f*ckbody (it means somebody to f*ck with no string attached) secantik Cameron Diaz. Kesempurnaan yang harusnya bisa membuatnya bahagia.
   
    Kemudian di malam Natal, saya ikuti tips di atas: bengong lihat bintang di langit malam yang cerah setelah hujan, tapi tanpa coklat. Saya menunggu ghost of the past datang, seperti di Dickens’ Christmas Carol. Entah kenapa, saya benar-benar kangen masa lalu. Bukan hanya karena kehadiran Tiara (Imaginary Name!). Tapi lebih karena rindu akan saat-saat ketika saya masih sangat naïf dan penuh keyakinan. Tidak seperti sekarang yang mulai skeptis akut dan (kalau kata teman bernama Swasti) marah pada dunia.
   
    Mungkin saya tidak tahu apa itu bahagia. Tapi saya tahu apa itu ketidakbahagiaan: Ketika saya merasa sendirian, tidak percaya siapa pun dan apa pun. Dan yang lebih parah adalah ketika tsiqoh atau rasa percaya itu memudar. Hingga akhirnya ada tiga kata yang sangat saya benci untuk mendengarnya: Cinta, Rakyat, dan Tuhan. Soalnya tiga kata penuh makna tersebut dengan entengnya diucapkan tanpa merasa berdosa, untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
   
    Hmmmm… It’s a very long December. Tapi sebentar lagi sengkalan surya berganti. Mungkin juga saat yang tepat untuk nyanyi teriak-teriak saat tahun baru bergulir: “And there’s reasons to believe. Maybe this year will be better than the last.”
   
    Dengan sejuta harapan: Bisa merasakan embun sepulang dari sholat subuh di masjid setiap pagi. Bisa lebih sering merasakan getaran kedekatan denganNya, dari setiap dzikir, dari setiap perenungan kekhilafan, juga dari setiap doa permintaan. Juga bisa mengencangkan lagi ta’liful qulub yang sempat merenggang, hingga tsiqoh kembali terbangun.
   
    Ahh… Memang benar kata Counting Crows, “and there’s reasons to believe.” Bahagia ternyata identik dengan iman. Hanya dengan mengingatNya hati jadi tenang.