Pages

Tampilkan postingan dengan label meracau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label meracau. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

Utopia Kebebasan Pers



"Saat ini dalam sejarah dunia, di Amerika tidak ada yang namanya kebebasan pers. Kalian tahu itu dan saya tahu itu. Tidak ada satu pun di antara kalian yang berani menulis pendapat kalian dengan jujur, dan kalau kalian melakukannya, kalian sudah tahu bahwa pendapat itu tidak akan pernah dicetak. Saya dibayar perminggu untuk menjauhkan pendapat jujur saya dari koran tempat saya bekerja. Kalian juga ada yang dibayar dengan harga serupa untuk hal-hal seperti itu, dan siapa pun di antara kalian yang dengan bodohnya menulis pendapat jujur akan terlantar di jalanan mencari pekerjaan baru. Kalau saya membiarkan pendapat jujur saya muncul di salah satu terbitan koran saya, sebelum 24 jam pekerjaan saya sudah melayang. Tugas para jurnalis adalah menghancurkan kebenaran, berdusta sama sekali, menyesatkan, memfitnah, menjilat kaki dewa kekayaan dan menjual negara dan rasnya demi sesuap nasi sehari-hari. Kalian tahu itu dan saya tahu itu, dan kebodohan apa ini mengajak kita bersulang bagi kebebasan pers? Kita adalah alat-alat pengikut orang-orang kaya di balik panggung. Kita adalah dongkrak, mereka menarik benang lalu kita menari. Bakat kita, kemungkinan kita, dan hidup kita semua, adalah milik orang lain. Kita adalah pelacur intelektual". 

JOHN SWINTON |  Mantan Jurnalis New York Times

Rabu, 29 Desember 2010

Teralienasi Angka


pada mulanya, manusia menanda waktu bukan dengan satuan angka. tapi melalui butiran pasir yang menetes perlahan, atau melalui bayangan yang terpantul pancaran sinar matahari. analog, bukan digital.

entah kapan, siapa memulai, dan bagaimana, manusia memerangkap waktu dalam satuan angka. mungkin saat itulah manusia mulai mengalienasikan diri dalam angka.

bangun pada pukul 04.30; mandi pada pukul 06.15; berangkat dari rumah pukul 07.30; tiba di kantor pukul 09.00; makan siang pukul 12.00, et cetera, et cetera.

tidak hanya rutinitas, bahkan manusia modern pun mulai terjebak dalam angka di sebuah upaya penghiburan diri, seperti jadwal film pukul 18.45. saat bertemu tuhan pun, manusia masa kini terjebak dalam angka: sholat maghrib pukul 18.13, sebuah waktu sholat yang seharusnya menjadikan matahari terbenam sebagai penanda.

manusia masa kini tampaknya memang teralienasi dalam angka. registrasi kependudukan menyebabkan manusia memiliki nomor KTP. dalam kegiatan ekonomi, nomor rekening menjadi kebutuhan. kalau sakit, manusia membutuhkan nomor jaminan sosial untuk berobat. dan saling keterhubungan pun membutuhkan angka: nomor telepon.

tidak hanya itu, kualitas pun sering dinilai dengan angka. murid dengan indeks prestasi di atas 3, dianggap lebih pintar dari yang 2 koma. manusia dengan penghasilan atau gaji double digit dalam satuan juta, akan memperoleh status dan kedudukan mulia di mata masyarakat.

keberhasilan sebuah negara pun dinilai berdasarkan angka statistik. dengan pertumbuhan ekonomi mencapai angka 6 persen, sebuah negara akan dianggap berhasil. walaupun di tahun yang sama ada satu kampung yang sebagian besar penduduknya mati karena kelaparan.

tentang tuhan? perdebatan tuhan tunggal atau jamak mungkin menjadi contoh bentuk manusia yang teralienasi dengan angka. ahh, bagaimana dengan cara manusia yang mengingatnya dengan cara menyebut 3 x 33 kali? entahlah. tidak bijak juga bagi saya untuk mempertanyakan cara manusia berhubungan dengan tuhan.

hahaha.. tuhan, saya meracau lagi. racauan yang sebenarnya disebabkan masalah sederhana: punya bos yang terobsesi dengan angka. sehigga menilai kualitas anak-buahnya hanya berdasarkan angka. hanya berdasarkan berapa jumlah pageviewer yang didapat dari berita-berita yang dibuat. angka pageviewer itu bahkan yang membunuh idealisme pembentukan media yang fokus dengan permasalahan korupsi. terbukti dengan matinya kanal korupsi.

sampai kapan saya bertahan? entahlah, saya hanya tidak ingin menjadikan angka sebagai alasan dan target untuk bertahan atau pergi.

29122011/07:08

Rabu, 03 November 2010

seperti apa tuhan?

suatu hari, seorang ustadz memberikan ceramah. "tuhan tidak terlihat, tapi terasa keberadaannya."

tiba-tiba saya menceletuk, "kaya kentut dong yah.."

sedikit menahan emosi, ustadz itu kemudian meralat. "tuhan bukan seperti kentut, tapi seperti udara! segar dan dibutuhkan manusia untuk hidup."

secara spontan pula saya merespon. "berarti di luar angkasa gak ada tuhan yah, kan di sana hampa udara.."
setelah berpikir lama, ustadz yang menahan marah itu kemudian melanjutkan lagi. "kalau begitu tuhan seperti listrik. tidak terlihat, namun menjadi daya pembangkit yang besar." 

saya kemudian merespon lagi. "kalau begitu, kalau pakai sandal jepit, kita tidak akan 'kesetrum' tuhan dong?"

tiba-tiba, ustadz menampar saya. matanya terlihat memerah, lalu berkata dengan nada meninggi:

"sakit?! seperti itulah tuhan! seperti rasa sakit! bisa dirasakan, tapi tidak terlihat.."

dengan menahan sakit, saya masih menjawab: "tapi sakit ini bersifat sementara. apakah tuhan juga?"

ustadz itu makin galak, kemudian berteriak. "jadi kamu menolak adanya tuhan?!

dengan menahan marah dan berusaha santun, saya hanya menjawab: "tidak! saya hanya menolak semua analogi manusia tentang tuhan. karena udara, listrik, bahkan rasa sakit adalah makhluq (yang diciptakan). bagaimana mungkin kholiq (sang pencipta) dianalogikan serupa makhluq."

saya dan ustadz itu kemudian sama-sama terdiam. walau begitu, mungkin masing-masing benak kami tidak akan pernah pernah terdiam untuk bertanya. "seperti apa tuhan?"

Sabtu, 16 Oktober 2010

Sulitnya Mencari Jenazah di Wasior Saat Presiden Datang


Wasior - Abdul Mamiek (43 tahun) menatap lekat pohon-pohon dan batu besar yang menimpa reruntuhan rumah-rumah di Teluk Wondama, Wasior, Papua Barat. Mamiek menduga di antara timbunan pohon, batu, dan lumpur itulah anaknya, Afdhalalul Ikhsan (21 tahun), terkubur banjir bandang saat bencana itu melanda Wasior.

"Di sekitar situ anak saya terkubur," kata Mamiek sambil menunjuk salah satu pohon besar, Kamis pagi, 14 Oktober 2010. "Lokasi itu juga saya tahu setelah tanya kepada warga di sini," lanjut Mamiek.

Usai menunjuk, Mamiek pun tak kuasa menahan tangis kehilangan Said, panggilan Afdhalalul, anak sulungnya yang baru tinggal di Wasior selama dua bulan. Di Wasior, Said bekerja sebagai tukang cuci foto dan ikut bersama adik perempuan Mamiek (tante Said) yang sekarang tinggal di pengungsian.

Ketika banjir bandang melanda Wasior, Mamiek sedang berada di Makasar. Saat mendapat kabar, seketika itulah Mamiek berusaha terus mencari Said yang masih dianggapnya hilang.

"Saya dapat kabar dia (Said) sedang tidur saat banjir itu datang. Sudah dibangunkan, tapi tidak sempat. Batu dan pohon besar itu menimpa rumah, tapi tidak ada yang tahu dia ke mana," ucap Mamiek sambil memegangi foto Said.

Sejak pertama tiba di Wasior, Selasa, 12 Oktober 2010, Mamiek pun terus berusaha mencari keberadaan Said. Termasuk jenazahnya, jika memang anaknya mati tertimbun lumpur akibat banjir bandang.

Mamiek terus meminta alat berat seperti ekskavator untuk mencari 'anaknya' di antara timbunan batu dan pohon besar. Namun, menurut Mamiek, pencarian korban hilang dihentikan sementara saat Wasior bersiap menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 14 Oktober 2010.

"Secara spontan saya minta ekskavator untuk gali. Tapi dikatakan: 'Kita tidak lakukan dulu itu, kita utamakan bersihkan jalan karena presiden mau datang'," tutur Mamiek sambil menyeka air yang masih tertahan di matanya.

Walau tidak mendapat bantuan, Mamiek mengaku akan terus mencari keberadaan 'anaknya' yang hilang. "Bagaimana pun saya terus mencari, dengan adanya bantuan ataupun tidak," ujar Mamiek.

Namun, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengatakan tidak ada penghentian sementara pencarian korban hilang. Menurut Syamsul, pencarian sementara hanya dihentikan di lokasi yang dilewati Presiden SBY.

"(Penghentian sementara) itu kan hanya pada titik yang dilewati Presiden. Sedangkan ada 18 titik yang pelaksanaannya tetap jalan, dengan 40 alat berat," ucap Syamsul yang ditemui di hotel tempat rombongan Presiden menginap di Manokwari, usai mengunjungi Wasior, 14 Oktober 2010.

Bayu Galih, Oktober 2010

Sabtu, 11 September 2010

Di Gerbang Istana




di gerbang istana, kemarin, ribuan orang berdesakan. kala itu, istana sedang mengadakan open house. iya, open house.. yang berarti (seharusnya) kemarin istana benar-benar membuka pintunya kepada semua orang yang akan masuk ke dalamnya: melihat kemegahan bangunan, keindahan taman, hingga bersalaman dengan raja penghuni istana.

dalam setahun, open house memang diadakan sekali, saat idul fitri. ini berarti dalam 364 hari (365 di tahun kabisat) yang lain, istana menjaga jarak dengan rakyatnya.

ironisnya, dalam open house setahun sekali itu pun jelata sulit sekali bertemu rajanya. mereka dipaksa berdesakan, menanti giliran masuk, hanya untuk bersalaman dengan rajanya. di depan gerbang sekretariat negara, yang anggaran pembuatan gerbangnya pun mampu kasih makan satu kampung miskin untuk dua tahun!

hingga seorang tunanetra bernama joni malela pun kemudian meninggal dunia akibat berdesakan di gerbang istana...

tapi kemudian, santer beredar kabar: rakyat berdesakan bukan semata untuk bertemu rajanya. tapi karena ada uang yang diberikan, usai bersalaman dengan raja.

setelah ditelusuri, ternyata memang ada uang Rp 100 ribu yang diberikan kepada penyandang cacat usai bersalaman dengan raja. tentu saja bukan salah para jelata apabila rela berdesakan di depan gerbang istana demi uang semata.

toh, dalam open house yang hanya sehari itu, mereka punya harapan akan bentuk 'kesejahteraan' nyata yang diberikan raja kepada rakyatnya. walaupun hanya Rp 100 ribu!

kesejahteraan pula yang tidak bisa diberikan sang raja kepada rakyatnya dalam 364/365 hari yang lain!

tiba-tiba, muncul kerinduan akan sosok pemimpin yang tidak pernah tinggal di istana, walaupun mampu untuk membangunnya. pemimpin yang terbiasa tidur di alas kasar hingga berbekas di punggungnya. pemimpin yang mau bertanggung jawab atas setiap lubang jalan yang ada di negerinya.
  
juga pemimpin yang ikut merasakan lapar, di saat rakyatnya kelaparan. bahkan hingga mengganjalnya dengan batu untuk menahan lapar.

(duka terdalam untuk joni malela)

11 September 2010

Senin, 19 April 2010

Hitam di Langit Koja, 14 April 2010

Saya yakin, saat itu saya sedang tidak berada di Tikrit atau Gaza. Tapi dentuman terdengar dari segala penjuru. Langit menghitam oleh asap dari kendaraan yang dibakar. Sore itu, saya ada di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, 14 April 2010.

Saat itu, amarah jelas terpancar di banyak wajah: Bahkan dengan senjata tajam yang siap terhunus. Selain amarah, terlihat pula wajah pucat ribuan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Sebelumnya, ribuan wajah itu terlihat garang menyerang massa yang berkumpul di makam Habib Hassan al Haddad, yang dikenal juga dengan sebutan Mbah Priok. Namun, ketika terjepit, terkepung, dan tersudut, pucat merupakan ekspresi wajar manusia menghadapi kematian.

Siang itu, lima tubuh Satpol PP dalam keadaan tak berdaya ikut saya gotong ke pinggiran. Setidaknya, agar tidak terus dipukul, ditikam, habis-habisan.

Dalam keadaan kritis, saya sempat mendengar dari mulut yang tidak berdaya itu terucap: “Ya Allah.. Tolong saya..” Tapi dari massa yang menghajar, saya mendengar nama yang sama disebut: Allah. Entah berpihak kepada siapa Dia saat itu.

Saya ingat, salah satu Satpol PP yang saya gotong, tertera nama W. Soepono di seragamnya. Soepono menjadi salah satu korban tewas bersama Ahmad Tadjuddin dan Israel Jaya. Saya tidak ingat apakah Israel dan Tadjuddin juga saya gotong saat itu.

Entah apa yang saya rasakan saat itu, yang pasti saya sedih ketika membaca sms yang mengabarkan kematian Soepono. Tapi saya kemudian marah ketika mendengar pidato Presiden!

Di Priok, tidak ada polisi saat itu, karena hukum tidak berlaku. Tapi sikap Presiden yang menyalahkan Pemerintah Provinsi dan mengkambing hitamkan media, membuat saya makin prihatin dengan negeri ini.
Allah… Entah kepada siapa kau berpihak saat itu… Sampai kapan kami harus pasrah dengan keadaan negeri ini.

Kami tidak lagi punya pemimpin yang bisa diharapkan untuk mensejahterakan rakyatnya.. Tapi setidaknya, jangan biarkan kami saling benci, apalagi saling membunuh!

Rabu, 13 Januari 2010

detakan

suatu malam kamu tanya, kenapa aku tidak pernah memegang tanganmu. kalau itu memang butuh jawaban...

karena tiap aku mendengar detak jantungmu yang beradu detak dengan jantungku, rasa-rasanya itu lebih dari sebuah genggaman, bahkan dekapan erat..

Minggu, 10 Januari 2010

pada sebuah perpisahan

pada sebuah perpisahan: seloyang pizza, sekotak donat, kumpulan kenangan yang terserak, dan sisa harapan di masa depan.

setelah ini mungkin akan jarang lagi ke ui, ke depok.

selamat tinggal kukusan;
selamat tinggal hutan karet;
selamat tinggal mushola nurul jihad;
selamat tinggal jalanan ui malam hari;
selamat tinggal sahabat terbaik.

thanks for the best 8+ years..

Jumat, 01 Mei 2009

Sesat 2

karena setapak
tak lagi berjejak,

masih adakah arah?

entah ke mana

april, 2009

Sabtu, 18 April 2009

Meracau: Ingin

Bahagia itu, CINTA, apakah berarti bila kami, manusia, dapat mereduksi ingin?

Dari sejumlah ingin sederhana: punya rumah, punya mobil, punya segala harta. Hingga ingin yang absurd tak terhingga: sehat jiwa, punya anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya, hingga keterpuasan nafsu-syahwati.

CINTA, entah hingga kapan kami, manusia, belajar bahwa ingin jua yang menjerumuskan moyang kami ke planet ketiga dari matahari ini. Diungsikan dari sebuah jagat surgawi, hanya karena ingin mencicipi ranumnya buah, yang konon bernama kuldi.

Namun mitos di dunia kami pun terpaksa menyalahkan Iblis sebagai kambing hitam. Karena ingin tak punya wujud, tak punya tanduk!

Dalam diriku, CINTA, juga tertanam berjuta ingin. Dari yang sederhana: Rumah sederhana di Menteng atau Tebet; dengan istri cantik yang mampu memenuhi dahaga hati-syahwati, anak-anak sehat-cerdas, dan segala kebutuhan materi lain.

Ada juga ingin yang absurd tak terkira: Memenuhi dahaga intelektual-dan-pengalaman-duniawi untuk mengelilingi planet yang bernama bumi ini.

Namun jika itu masih terasa sulit untuk direduksi, CINTA.. Izinkan saya memiliki ingin, satu saja: Untuk berada dalam pelukanMu.. Dalam rengkuhanMu, CINTA...

Satu ingin saja, CINTA.. Untuk menghilangkan ingin-ingin yang lain.

Sabtu, 04 April 2009

Meracau: Film Hitam-Putih

Kemudian, kau dan aku bagaikan masuk dalam adegan film hitam-putih itu.

Kau, dalam balutan kemeja lengan panjang dan rok panjang, tampak anggun dengan rambut yang terurai sebahu. Menanti dengan raut muka yang tampak resah, di bawah pohon itu.

Sedang aku, dengan tergopoh mengayuh sepeda onthel, menghampiri manis senyum di wajahmu, saat melihat hadirku.

Kemudian kita susuri pematang, yang entah untuk menikmati apa selain kebersamaan. Kau mengikutiku dari belakang. Sedang aku menggenggam erat tanganmu, layaknya membimbing anak kecil yang baru belajar berjalan.

Di sebuah saung bambu, kemudian kau dan aku bicara tentang masa depan yang terlalu sederhana: rumah mungil bersekat bambu, berdinding gedhek bambu, dan beratap rumbia dari dedaunan. Dengan 5 makhluk kecil yang makin mewarnai hidup kau dan aku.

Ahh, puan... Tentu akan indah jika cinta melahirkan bahagia yang sederhana seperti itu. Tapi kita hidup di masa dengan film yang penuh warna. Dan tidak hanya hitam-putih seperti itu, bukan?!

Sabtu, 28 Maret 2009

Meracau: Sebelum Malam Terlalu Larut

karena malam belum terlalu larut. dan aku memilih untuk berbincang dengan bayangan. dan tenggelam dalam omong kosong kebahagiaan hidup. untuk melupakan sejenak akan yang disembunyikan malam: derita berkepanjangan dan sesak tak tertahan dalam mimpi-mimpi panjang.

kemudian makin tersadarkan oleh tangis bayi lapar di tengah malam. tapi, hei, sang ibu masih menunggu pelanggan setia di perempatan jalan.

hingga kemudian, aku dan bayangan menghentikan masturbasi percakapan. memilih untuk menyalakan radio yang melantunkan lagu tentang zinah.. oh maaf, tentang cinta.

namun hei, tidak ada kisah layaknya sampek-engtay dalam lirik-lirik sendu itu. samar-samar terdengar kata yang merupakan manifestasi individualisme semata: ingin, butuh, mau, mau, mau... mau?!

Kamis, 12 Maret 2009

merindukanMu, Cinta....


merindukanMu, Cinta... ibarat seorang buta sejak lahir yang merindukan cahaya. terasa, namun tak dapat terekam lensa mata dan retina. lagipula apa arti cahaya, bila tak satu gelap pun pernah dirasa. (walau konon, gelap adalah ketiadaan cahaya)

Jumat, 27 Februari 2009

Sunduquna Juyubuna Itu....

Seorang teman yang kader sebuah partai bercerita romantika masa lalu. Ketika partai itu masih partai kecil. Begitu kecilnya hingga tidak lulus electoral threshold..

Walau demikian, militansi kader partai itu sangat tinggi. Dengan bekal semangat mencari ridhoNya, bahkan ketika kampanye pun modal untuk bikin atribut berasal dari kantong sendiri.

Sunduquna juyubuna, demikian istilah arabnya. Kurang lebih berarti dana partai berasal dari kantong kader-kadernya. Istilah yang kemudian berkembang menjadi Partai Kantong Sendiri.

Nah, teman itu bercerita. Karena kondisinya demikian, atribut partai pun menjadi sangat berharga. Andai suatu ranting hanya bisa punya 50 bendera dan 5 spanduk, maka itu akan diinventarisir. Itu akan dicatat di mana saja bendera dan spanduk itu dipasang. "Bahkan kalau perlu dicuci biar kelihatan baru," katanya.

Hmm.. Tiba-tiba saya teringat ketika partai ini masih Partai Kecil pada pemilu '99. Memang partai ini sudah mampu untuk bikin iklan. Tapi iklannya tidak pernah dipasang pada saat prime time. Biasanya hanya ada saat acara kuliah subuh.

Hmm.. Tentu waktu itu ghiroh keislaman masih kental di partai itu. Hingga seolah-olah segmen yang diincar tertentu saja. Ya itu, yang biasanya lihat tivi setelah sholat subuh.

Tapi yang lebih menarik, kapan saja iklan itu akan tayang diinfokan juga ke kadernya. Jadi kader-kader dapat jadwal penayangan iklan itu. Dari tanggal, jam penayangan, hingga di acara apa akan ditayangkan. Karena, ya sunduquna juyubuna itu. Kader perlu lihat seperti apa iklan itu jadinya. Toh iklan itu juga dibuat karena dananya berasal dari kantong para kader.

Sekarang.. Partai ini sudah agak besar. Posisinya pun strategis. Konon akan jadi kunci kemenangan 3 capres dari partai merah, kuning, biru.

Hmm.. Entah apa ini juga terjadi di daerah lain. Rasa-rasanya, di Jakarta aktifitas mencuci lagi atribut jadi hal yang langka. Karena mungkin dana untuk bikin atribut bukan lagi sesuatu yang sulit didapat.

Iklan yang dibuat pun sudah ditayangkan saat prime time. Dengan penggambaran yang lebih modern. Hmm.. Saya pikir, penyebaran fotokopian jadwal penayangan iklan tidak lagi ada di masa sekarang.

Hmm.. Mungkin kadernya terlalu ikhlas dan tsiqoh untuk apa saja kantong mereka digunakan. Atau sudah terlalu banyak dana yang ada sekarang, dibanding ketika masih Partai Kecil.

Toh buat apa cuci atribut kalau bisa beli baru. Buat apa pasang iklan saat kuliah subuh, kalau bisa pasang di prime time. Tidak perlu repot untuk membagikan jadwal penayangan iklan juga, kan...?

Hmm.. Mungkin partai ini kini punya kader yang banyak. Atau tingkat ekonomi kadernya meningkat. Hingga dana yang katanya sunduquna juyubuna bukan lagi masalah.

Hmm.. Konon, ada juga pengusaha yang bersimpati. Sampai gosipnya (ingat ini baru gosip ya, karena belum saya konfirmasi) mau membiayai pembuatan gedung untuk dijadikan markas DPP yang baru di TB Simatupang. Namun pengusaha itu dianggap bermasalah oleh beberapa kadernya (atau mantan kader), karena termasuk salah satu pengemplang dana BLBI.

Hmm.. Namun semakin menarik ketika akhirnya, nama pengusaha itu disebut-sebut sebagai salah satu alternatif opsi untuk cawapres dari partai itu. Dan yang menyebut juga salah satu kader terbaik partai. Walau akhirnya pasti dibantah Presiden partai: "Itu masih pendapat pribadi. Keputusan ada di majelis syuro."

Hmm.. Hasan Hudaibi, salah seorang mantan Mursyid Aam Ikhwanul Muslimin, pernah mengatakan: "Anjing tidak pernah menggonggong kepada tuannya yang memberikan tulang.."

Dalam konteks ini, sunduquna juyubuna adalah harga diri. Adalah martabat. Walau mungkin harus mencuci atribut, menginventaris, dan mencatat di mana saja atribut itu dipasang. Walau hanya bisa pasang iklan di saat kuliah subuh, thok.

Hmm.. Saya hanya bisa mengatakan ke teman itu. Sabarlah.. Mungkin ini fase fitnah dalam roda hidup. Andai fase berikutnya adalah mihnah, fase ketika Allah menyaring orang-orang yang istiqomah di jalanNya, berdoa semoga kita termasuk yang lolos saringan. Amiin..

Senin, 09 Februari 2009

Sebelum Mati....

Tuhan.. Sebelum saya mati, kabulkanlah beberapa permintaan. Tidak banyak, kok, Tuhan..

Saya ingin menyanyikan lagu "You'll Never Walk Alone" di suatu pertandingan Liverpool di Anfield, sebelum mereka pindah markas. Ingin juga menikmati sudut Quartier Latin, Paris, sambil belajar bahasa Prancis,kalimat2 selain "l'etat cest moi" atau "dur dur detre baby". Eh, tapi penasaran juga lihat Abbey Road, siapa tahu bisa foto sambil nyebrang kaya The Beatles itu lho, Tuhan.

Hmm.. Tapi Tuhan, kayaknya perjalanan membelah sungai-sungai di Eropa juga menarik. Namanya apa Tuhan: Seine? Rheine? Thames? Yang katanya lebih bersih dr Ciliwung, ya?

Tuhan, saya ingin melihat migrasi lumba-lumba di perairan pasifik. Atau lihat paus putih besar, yang konon beratnya 32 kali gajah Afrika. Ingin juga lihat langsung cheetah yang lari mengejar impala di afrika. Atau main-main sama penguin, kayaknya lucu juga.

Hehe, terkadang punya pikiran iseng juga.. Ingin berenang bareng piranha di amazone. Atau dalam perjalanan mencari El Dorado itu.. Hmm, kayaknya menyusuri lorong-lorong tua di Yerusalem juga menarik. Apalagi kalo bisa ngerasain menyusuri terowongan rahasia dari Mesir yang menuju Gaza.

Hmm.. Pengen jg main2 ke Graceland. Terus lihat tugu2 yg katanya jd simbol2 freemason, di Washington itu, Tuhan... Hehe, jd pengen ikut tour menyusuri tempat-tempat di Da Vinci Code. Serasa jd Langdon banget dah...

Oh iya Tuhan.. Kayaknya saya juga pengen liat tempat syuting Lord of the Ring itu.. Di New Zealand ya? Atau pengen liat kastil-kastil, yg kaya Hogwarts itu..

Hehe.. Tenang aja Tuhan.. Saya ga lupa koq. Saya jg pengen lihat rumahMU, yang kotak nan hitam itu. Hmm.. Pingin liat juga heroisme bukit Uhud. Tempat rasulullah pernah bersimbah darah. Sungguh jauh dari pemimpin sekarang yang cuma bersimbah harta.

Ahh, banyak banget ya minta saya... Tapi Tuhan.. Bantu wujudin dong. Setidaknya untuk lihat Leang2 di Sulawesi yg penuh lukisan prasejarah itu. Atau menyusuri hutan2 dan sungai2 kalimantan. Atau snorkling dan diving di wakatobi dan rajaampat. Atau... Ahh.. Banyak bgt yg mo saya lihat, alami, rasakan, Tuhan... Sebelum mati!

Rabu, 28 Mei 2008

Kuatkan Kesaksian Hamba dalam Keraguan

Tuhan, seorang anak belasan tahun mati gantung diri dan memotong urat nadi tangannya kemarin. Hanya karena bapaknya tidak mampu membiayainya untuk melanjutkan sekolah. Bapaknya hanya Hansip, Tuhan. Penghasilannya pun mengandalkan kebaikan orang yang mobilnya dijaga saat parkir. Ketika harga-harga makin tinggi, wajar kalau sang bapak tidak mampu memenuhi permintaan anaknya, yang kemudian memilih mati.

Tapi Tuhan, di lain pihak, ada juga orang yang tidak terpengaruh dengan kenaikan harga BBM dan barang-barang. Paling-paling mereka hanya mengurangi jam kunjungan ke rumah bordil. Atau mengurangi jatah botol Jack D tiap minggu.

Bahkan Tuhan, seorang Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di negeri ini makin kaya karena saham Bumi, perusahaan milik keluarganya, tetap stabil di saat negeri makin susah. Di saat ada orang bunuh diri karena tidak mampu melanjutkan sekolah.

Adilkah Engkau,Tuhan...?
Akankah Engkau tetap bertanya: "Benarkah aku Tuhanmu?" di tengah keraguan banyak orang akan adil-Mu?

Dan Tuhan, hamba pun masih menjawab:
"Qollu bala Syahidna, saya masih bersaksi akan-Mu..."

Walau hamba masih sering bertanya-tanya akan adil-Mu,
Kuatkan hamba...

Sabtu, 12 April 2008

Meracau Tentang Suatu Masa di (Fakultas) Sastra

Entah kenapa gw kangen banget kampus. Bukan kuliah, tp dunia lain selepas kuliah..

Gw kangen nongkrong di payung bareng anak-anak sempalan. Sembari sumpah serapah tentang RKA dan Cecep. Haha, yang kita peduli hanya skripsi. Waktu itu siapa peduli sama hidup setelah lulus: Bahwa nanti ada tuntutan hidup bernama pekerjaan, nikah, atau apapun itu. Dan siapa peduli bahwa ijazah lulusan Arkeologi ternyata ga laku kayak kacang goreng, atau jurusan pasaran laen. Bahkan sampe ada yang ditanya, "emang di museum ga ada pekerjaan?" Hehehe, bahkan gw inget waktu Anton bilang: "jarak gw sama masa depan sebenarnya tinggal segni (nunjuk satu ruas kelingking). tapi penghalangnya cuma Cecep!" HAH!! Sial, Ton! Ternyata, satu ruas kelingking itu terasa seperti selamanya...

Gw juga kangen ngobrol2 sama Ade Irfan. Ngobrolin hal ga jelas: Bahkan obrolan selangkangan pun pake ngutip Freud atau Saussure segala! Hahaha... Btw, pa kabar loe, Fan? Obrolan gw sekarang kering Fan! Gw tau kalo kadang2 kita masih berpikir kayak dulu: "ga ada guna juga baca banyak buku kalo ga ada duit!" Dan itu, sekarang rutinitas gw hanya berdasarkan materi, cari duit. Intelektualitas gw jadi impoten. Persetan kalau yang kita lakukan dulu cuma Orgasme Pikiran. Setidaknya ga jadi robot yang bergerak karena mekanisme rutinitas semata. Walau begitu, tetep aja Fan: Gw benci Filsafat. Atau orang yang merasa pintar ketika baru kenal filsafat. Tapi, lo juga tau kan, Fan, kalo gw benci banyak hal...

Haha... Uswah, Swasti, Pras... Apa kabar Ekspresi! Mati di tangan Diero y?! Sial, padahal betapa kerja kerasnya kita mengumpulkan uang, untuk menghidupkan media ga jelas yang mati berulang kali. Haha, sial, gara2 ekspresi jg gw terjebak di dunia beginian: tulis menulis yang ga tau untuk apa, untuk siapa, selain pencaharian semata. HAH, sial, Wah. Ternyata Tempo ga seindah bayangan gw waktu kuliah: Merintis jalan menuju kesuksesan Jurnalisme Sastrawi. Hmm... Entahlah, ga mau jg gw berpikir sepesimis itu. Mungkin ada benernya omongan Swasti, alumni UI ga punya endurance. Baru digoyang sedikit ud males. Hahaha... Btw, emang kalo kita bertiga kumpul pernah menghasilkan pembicaraan positif?! Bukannya negatif mlulu: Ngarep lah, Nyela lah, Au ah! Toh kita bertiga pernah merasakan pahitnya jadi pihak yang rejected!

Hehehe... Apa kabar Komunitas Payung: Masih inget kah kalau kita dulu bermimpi membuat antologi: puisi, atau apalah dari dunia antah berantah. Ternyata lebih enak bermimpi, ya. Daripada mengusahakan. Abis gimana, dunia sastra adalah dunia positioning. Dan apakah gw atau kalian bersedia memposisikan diri?! Yang pasti gw ogah! Ahh, Persetan Utan Kayu, persetan DKJ, persetan Taufik Ismail, persetan semua yang sok paling mensastra! Ternyata lebih enak jadi jin perpust, ya... Berisik di perpust sambil godain orang pacaran: Ya iyalah, emang perpust tempat pacaran?! Tapi tetep aja, hobi gw adalah ngumpet di salah satu ujung rak waktu ujan deres di luar... Kenalan sama Afrizal Malna sang arsitek hujan, sambil disumpahserapahi Eros kayak Chairil! Hahaha.. Lagipula gw mulai sadar: GW GA BAKAT JADI PENULIS! TULISAN GW SAMPAH! Mending jadi PNS aj...

Monyong, tiba-tiba teringat Tiara (Imaginary Name!). Masih teringat akan tatapnya di payung itu! Atau waktu di perpust. Ah, sia-sia gw buang waktu bertahun-tahun demi dia, 'cinta'. Cinta who? Laura?! HAH! Mungkin emang ga ada cinta. Yang ada cuma konsepsi semata. Setidaknya karena motto hidup gw bukan Coitus Ergo Sum. Tapi setidaknya mereka yang ber-Coitus Ergo Sum tidak membuang waktu demi hal absurd bernama cinta. Cukup 210 ribu bisa setubuhi wanita cantik di Griya Sehat: Primadona asal Purbalingga dengan nomor foto 28! Astaghfirullah... Hina banget gw kalo sampai ngebuang 'hidup' gw ke dalam lembah zina. Makanya, gw cukup menjadikan cinta sebagai konsepsi semata! Tai kucing! Koq ketika nulis ini gw masih merasa 'kosong' ya? AH sebodo teuing!

Intinya, gw makin absurd aja dengan semuanya.. I miss my salad days! When i was green in judgement! When i was green in dream...

Sabtu, 16 Februari 2008

........ | ...---... | ........

    Kebetulan saja hari itu 14 Februari (jadi ingat tulisan seorang teman). Beberapa sibuk dengan urusan melankoli merah jambu.. Tapi puan, apa lagi makna melankoli itu bagiku. Sedangkan saat itu, di suatu gedung di kuningan, yang katanya 'markas pemberantas tikus' itu, aku berkutat dengan banyak pikiran: Bahwa tidak ada lagi yang bisa dipercaya di negeri ini.
    Benar, puan. Di depan markas 'mice buster' itu, aku seakan menjadi bagian dari  skenario besar sandiwara negeri ini: Mengabarkan orang akan hal tak penting. Beberapa orang diperiksa, namun hanya tikus-tikus kecil yang ditahan.
    Andai puan bisa melihat wajah sendu tikus-tikus kecil yang dikorbankan: Pucat-pasi, terdiam-kaku, dengan sorot mata pasrah yang mengharapkan belas kasihan. Apa yang sedang dilakukan tikus-tikus besar saat itu: Sibuk koordinasi di Senayan? Ataukah memang benar sedang merencanakan skenario besar lain di Darmawangsa? Terlibatkah para pemberantas tikus dalam skenario besar itu? Entahlah, puan. Lebih baik aku gila karena memikirkanmu, dibanding gila karena itu.
    Bukan, puan. Aku bukan politisi, pengamat politik, apalagi ideolog yang menginginkan banyak hal untuk negeri. Jiwa ini terlalu rapuh untuk memimpikan sebuah negeri yang merdeka 100%, seperti yang dipikirkan Tan Malaka. Hati ini juga terlalu rapuh untuk sekedar mengucapkan harapan akan sebuah negeri yang adil dan makmur. Bukankah itu tujuan pendiri bangsa ini dalam memperjuangkan sebuah kemerdekaan? Terlalu lelah aku mendengar itu, puan.
    Mungkin bukan hanya aku yang lelah karena itu. Tapi, puan, kemudian mereka mereka menciptakan sebuah pelarian: Seperti Thomas More yang kemudian 'menciptakan' Utopia. Atau J. M. Barrie yang menghadirkan Neverland. Bahkan beberapa benak berharap konstruksi negara ideal ala Madinah zaman Rasulullah pun bisa kembali tercipta. Aahhh, cukup puan yang membuatku lelah dalam berkonstruksi....
    Lebih parah, bahkan aku tidak tahu lagi apa yang aku inginkan, puan. Jika memang benar kalau ingin adalah sumber penderitaan, cukup menginginkan puan sajalah penderitaan itu berasal. Tapi adakah rasa cukup manusia terhadap ingin? Zuhud terhadap hasrat?
     Aku lelah, puan. Dengan segala hal yang terus berkecamuk tanpa henti, dalam benak atau dalam hati. Skeptis: Tanpa kepercayaan, tanpa keinginan. Benar, puan. Puan hadir saat kepercayaan dan keinginan itu masih ada. Jadi mungkin aku lebih merindukan masa-masa itu, bukan semata kehadiranmu.
     Kebetulan saja malam itu 14 Februari. Namun entah kenapa, aku jadi teringat satu bait dari sebuah lagu, malam itu. Dan ini mengingatkanku akan kamu, puan.

you are my compass star
you are my measure
you are my pirate's map
of buried treasure...

(Sting: Ghost Story, Brand New Day, 1999)

Kamis, 31 Januari 2008

................



"i'm running out of time i'm out of step and
closing down and never sleep for wanting hours
the empty hours of greed and uselessly always
the need to feel again the real belief of
something more than mockery if only i could
fill my heart with love"

The Cure
(Closedown)


suatu malam [pada lima tahun yang lalu]... teringat indahnya tatapmu yang menatap dingin langit di atas Cirebon. [ya, Cirebon, bukan Paris, atau London]

[Masih terjebak dalam fananya waktu...] Tapi apalah arti waktu.. "yang fana adalah waktu, bukan" [sdd] tanpa jenuh aku terus menggunakan kutipan syair itu.. seperti apakah kefanaan?

[apakah seperti orgasme hidung belang setelah menggagahi penjaja nafsu. catat: nafsu, bukan cinta. karena mungkin tidak ada cinta. lalu apa yang membuatku fatalis berharap akanmu?]

[apakah kecantikanmu juga fana? begitu pula dengan tatapmu? yang tajam menyeruak, menerawang, memandangi gerimis di Caringin itu?]

pada suatu ketika, terucap kata dari bibirmu, yang melalui untaian kawat kabel Telkom, lalu menghujam tepat di jantungku:
"penting ya, jadi cantik?!"
ahhh, puan... andai saja kau tahu cantikmu yang fana itu menaklukkan beberapa hati tuan. yang untungnya menjadi mati karena dinginmu.

yang untungnya bukan aku yang mengatakan mencintaimu karena kamu cantik. karena puan, berjuta bintang di langit juga cantik. bagitu pula dengan lembayung senja. tapi tak menjadikan satu tuan pun gila hingga takluk. seperti takluk di hadapmu. mengapa dia tidak bersimpuh ingin selalu bersama lembayung senja, atau langit berbintang. tapi ingin selalu bersamamu. apa karena tatapmu lebih indah dari lembayung itu? atau apa karena dia tidak bisa mensetubuhi indahnya langit malam? karena cintakah orang rela untuk mengikat janji untuk kemudian disetubuhi...? ahh.. pasti ada alasan yang lebih dari itu. mari kita coba cari tahu..

[entah kenapa aku lebih menghargai orang yang menikah karena alasan yang lebih transenden: tuntutan dakwah, manhaj para nabi... ahhh... andai saja aku bisa mencintaimu karenaNya. bukan karena cantikmu, atau tatapmu, atau mungkin anumu... tapi tidak.. bahkan aku tidak pernah memiliki fantasi apapun tentangmu. bukan berarti tidak bisa bernafsu akanmu, tapi ada yang lebih bergetar selain anuku... hanya saja kamu tidak pernah mau tahu: hatiku!]

lagipula puan, aku tak percaya cinta. bukan.. bukannya tak percaya. katakan saja belum. karena terlalu rumit semiotika itu. maukah kau mengajarkan itu: tak perlu rumus-rumus rumit itu, puan.

puan, kefanaan apakah yang terasa begitu abadi:
merekonstruksi wajahmu. juga perasaanku akanmu.
adalah sebuah keanehan apabila orang yang tidak percaya cinta seperti aku, terus memiliki perasaan kepada seseorang yang dingin seperti kamu, puan...

[aaahhhhhh... entah apa makna kata tulisan ini. racauan. yang pasti tidak akan pernah terbaca (ya, terbaca.. bukan dibaca) olehmu...

*if only i could fill my heart with love*

gajelasgajelasgajelasgajelasgajelasgajelasgajelasgajelas
gajelasgajelasgajelasgajelasgajelasgajelasgajelasgajelas
gajelasgajelasgajelasgajelasgajelasgajelasgajelasgajelas